The Man behind The Jarum Suntik and Jamu Setan…

Rasa rasanya sekitar bulan September 8 tahun yang lalu daku menelpon YLKI (Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia) beberapa kali memberitahukan bahwa Jamu Setan sudah kebangetan beredarnya dan bahayakan masyarakat.

Daku memberinya nama Jamu Setan karena mengandung Steroid dan Bahan Kimia Obat (BKO) lainnya dalam dosis yang sangat besar dicampur dalam sebungkus “Jamu” tersebut.

Jamu Setan ala Indo adalah bubuk temulawak (kadang kapsul) + BKO yang isinya:
Fenilbutason, Metampiron, Deksametason (Steroid), CTM, Allupurinol, Sildenafil Sitrat, Parasetamol dan Sibutramin Hidroklorida…. baunya khas jamu Indo.

 Jamu Setan ala Cina, biasanya berupa pil atau capsul dengan bau yang sangat khas jamu cina + BKO juga, sama aja isinya.

Steroid selalu menjadi salah satu ingredient alias menu utamanya, karena memberikan efek yang luar biasa dan sangat terkenal dalam dunia olah raga.

Di dunia Perdukunan alias Kedokteran, steroid sering disebut sebagai Obat Dewa pada awal kemunculannya, ternyata efek samping berbahaya kalo digunakan sembarangan.

Pemakaian steroid ditangan yang bertanggung jawab alias dokter sangat besar manfaatnya,

Yang namanya obat jika dalam dosis terapi dan memiliki indikasi yang jelas akan menjadi Baik dan menjadi Setan bila digunakan sembarangan.

Saat itu, th 2000 sudah ada sekitar 52 pasien pertama kali datang berobat ke klinik daku karena gagal jantung akibat efek samping steroid ini gara gara minum Jamu Setan, pasti diluaran sana lebih banyak lagi jumlahnya.

Paling gampang dikau liat, kalo ada yang minum jamu lalu tiba tiba nafsu makannya jadi gila dan doi mendadak jadi gendut sekali dan mukanya jadi bengkak, maka tak salah lagi, doi sudah mengkonsumsi steroid dosis tinggi.

Pernah daku liat  steroid ini tergantung bebas kaya shampo sachet, dan di promosikan sebagai obat napsu makan di pasar pasar tradisional di Quntien .

Bahkan konon  tukang jualan sapi nakal memberikan steroid sebelum menjual sapinya supaya berat sapinya bertambah, Imagine 🙂 , only in Indo.

Jamu, jika jamu isinya benar tetumbuhan yang berkhasiat tentulah itu adalah obat warisan nenek moyang yang pantas dihormati, jika dimasukkan sembarangan BKO kedalamnya, maka menjadi malapetaka, itulah sebabnya daku namakan Jamu Setan.

Mengapa orang tetap mau minum Jamu Setan, itu karena “Enak makan, enak tidur, nggak tau cape, sakit dan pegal badan hilang semuanya” .

Tapi rasa enak ini paling bertahan sehari dua hari, makanya mereka jadi kecanduan sama Jamu Setan ini dan makanya laku keras…..

Tapi mau menolong masyarakat tidak semudah yang diduga, daku sudah beberapa kali menghubungi Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia tetapi YLKI bilang saat ini belum ada prioritas untuk ekspose hal ini, daku maklum.

So, daku juga berusaha beberapa kali menghubungi redaksi Koran Kompas sebelum akhirnya get lucky..

Tak lama kemudian terjadi heboh 43 jamu ditarik BPOM, saya dihubungi oleh YLKI untuk jadi pembicara yang mewakili konsumen pada suatu seminar yang dihadiri oleh banyak kalangan termasuk DepKes dan Dirjen POM.

Daku tolak karena kuatir nanti jadi ngetop dan masuk inpotenmen kaya Dr Boyke ..he..he..he. just kidding, nanti dikira profesi dokter memusuhi jamu tradisional, padahal yang kita musuhin kan jamu-jamu palsu.

Daku usulkan konsumen yang sakit karena ulah Jamu Setan itu yang hadir sebagai pembicara mewakili orang lain yang juga mengalaminya, jadi lebih representatif.

Beberapa hari kemudian lagi dimuat di halaman pertama Koran Kompas. ( ini kutipan originalnya)

KOMPAS Rabu, 11 Oktober 2000, 08:32 WIB

Obat Tradisional Cina Mengandung Bahan Kimia

SEORANG dokter umum di Jakarta, dr Eddy JP, menghubungi Kompas mengungkapkan kegelisahannya. Pasalnya, cukup banyak pasiennya datang berobat sambil membawa obat-obat kedokteran Barat yang dikira obat Cina karena memakai bahasa Cina dalam tulisan labelnya.

Ada dua yang saya anggap berbahaya, yaitu Ancom dan Fenfluramini.

Yang pertama di dalam leaflet-nya selain mengandung obat antihipertensi reserpin, juga mengandung obat penenang diazepam dua miligram per tablet. Saya agak heran mengapa beredar dengan leluasa sekian lamanya. Sedang Fenfluramini adalah obat penekan nafsu makan yang telah ditarik dari peredarannya di dunia medis karena merusak jantung. Beberapa pasien yang meminum obat ini mengaku dadanya terasa sesak,” tutur dr Eddy. (bahkan ada yang anggap FF sebagai obat kencing manis !! )

The Man behind The Jarum Suntik and The Jamu Setan ( Story 2)……

Well, sebenarnya daku sudah pesan dengan wartawan Kompas, nggak usah cantumkan nama daku, tapi masih nongol juga dengan singkatan.

Wartawan ini yang kemudian sampaikan masalah Jamu Setan dan Obat dari dunian kedokteran barat Bertulisan Cina ini kepada Prof Iwan Darmansyah, Dirjen POM, YLKI dan kepada redaksi KOMPAS lalu dibuatlah Liputan Investigasi untuk Koran Kompas.

Besoknya  daku dihubungi mas Sastra Wijaya, Desk Editor Indonesian Section BBC World Service.
Daku di wawancara langsung dari London dan di siarkan di Radio BBC London sekitar jam 8 malam dalam acara INFO MEDIKA, dan di relay oleh radio Elshinta FM di Indo.

Awalnya daku menolak untuk diwawancara  karena itu pas jam praktek daku, tetapi karena ini bagian dari tanggung jawab sosial,daku bersedia juga akhirnya.

Dan tidak ada keinginan kondang karena kepentingan masyarakat sehat yang paling utama, asalkan masyarakat bisa aware adanya bahaya obat Cina sudah cukup.

Tapi hati daku gundah pada tahun 2006, malahan ada 93 Produk Obat Tradisional Mengandung Bahan Kimia Obat Keras alias Jamu Setan yang beredar.

Obat-obat tradisional yang diproduksi oleh produsen obat dari Cina serta beberapa daerah di Indonesia seperti Banyumas, Jakarta, Makassar, Cilacap, Malang, Solo dan Jawa Tengah itu dicampur dengan BKO jenis Fenilbutason, Metampiron, Deksametason, CTM, Allupurinol, Sildenafil Sitrat, Parasetamol dan Sibutramin Hidroklorida.

Merek produk obat tradisional yang mengandung BKO itu antara lain terdiri atas Xing Shi Jiu, G-Bucks Kapsul, Asam Urat dan Flu Tulang Kapsul serta Serbuk, Neo Tasama Kapsul, Pegal Linu Encok Rematik, Langsing Alami Kapsul, Amargo Jaya Ramuan Madura, Cikung Makassar Super, Obat Pegel Linu Ngilu Tulang, Sembur Angin, Daun Dewa, Flu Tulang LabaLaba, Obat Kuat Viagra, Extra Fit, Pegel Linu Cap Widoro Putih, Prono Jiwo dan Antanan Kapsul.

“Obat-obat itu biasanya dijual di gerai-gerai jamu atau dijajakan oleh tukang jamu gendong dengan sebutan ‘Jamu SETelAN’,” ujarnya.
Sumber: http://www.republika.co.id/ – Selasa, 05 Desember 2006

Dikau bisa bayangkan mbok jamu gendong sekarang lebih canggih daripada dukun, jika pakai jamu tradisional biasa kurang kuat tinggal ditambahin Obat Kuat Viagra.

Bahkan pernah daku liat di tipi, ada gerobak jamu yang hebats, seorang bapak diberikan jamu+ telor  bebek+ tablet Viagra…ha..ha..ha..gile abis deh, only in Indonesia.

Dan pasti Viagra palsu, aselinya mahal sekali Bow 🙂 .

Rasanya lebih asik jadi tukang jamu  deh, boleh kasih “obat” sembarangan, dan jika ada yang komplikasi, dan pasiennya mati, tentu daku nggak akan disalahkan, lho namanya aja cuman tukang jamu kok..he.he..he..

So, jika dikau pecinta jamu, ingin tetap minum jamu tradisional, sebaiknya minum saja jamu dari pabrik Nyonya Meneer, Ayam Jago, Sido Muncul, Air Mancur yang sudah terbukti oke sejak jaman dulu dan  mereka punya pabrik produksi yang besar, jadi too risky kalo mo main gila..

Daku tau dikau rada bosan sama dongeng kali ini, tetapi ini adalah perang besar yang sangat penting dan masih berlangsung, ancaman denda 100 juta bagi yang membuat jamu setan nampaknya tidak membuat jera pembuatnya.

Tanya Kenapa ??
Konon ini bisnis menyangkut perputaran uang yang luar biasa besarnya.
Ada Gula Ada Semut. 🙂

Tetapi at least dibanding 8 years ago, sekarang ini di Little Quntien sudah jarang pasien yang datang karena Jamu Setan walau jamu ini masih beredar, daku masih rajin ngoceh sama pasien yang datang soal jamu palsu ini.

Namun sekarang ini banyak Toko Obat menjual obat rematik dalam paket 3  macam obat, steroid adalah salah satunya, sangat tokcer katanya, dengan akibat efek samping yang hampir sama, the fighting is not over yet.

Dan obat yang darah tinggi yang namanya Ancom itu masih tetap beredar tapi agak sudah dapatnya, kata seorang pasien 🙂 .

CATATAN:
A total of 192,000 Chinese patients are reported to have died in 2001 from fake drugs, and in the same year Chinese authorities “closed 1,300 factories while investigating 480,000 cases of counterfeit drugs worth 57 million USD”

 Mafia besar terlibat dalam mengedarkan obat palsu sampai masuk ke RS Besar di Cina, obat mahal seperti anti kanker, anti AIDS., Antibiotik dipalsukan, banyak yang mati ditembak dalam kasus ini, diperkirakan 25 % obat yang beredar saat itu PALSU !!! Bayangkan…he..he..he.. dan masih terjadi lagi sampai sekarang, ikuti saja terus beritanya.

Cuplikan artikel koran KOMPAS Liputan Investigasi :

Obat-obat tradisional Cina yang banyak beredar di Indonesia dan dikenal ampuh, ternyata mempunyai masalah yang membahayakan konsumen. Pasalnya, sebagian obat-obatan yang beredar tersebut ternyata menggunakan bahan-bahan kimia yang berbahaya.

Ketika Kompas datang ke beberapa toko dan mencari obat tradisional Cina, kebanyakan para penjual memang mena-warkan Ancom Fenfluramini kepada para konsumennya. Bahkan, di sebuah toko di Pasar Pramuka sedikit memaksakan Fenfluramini ketika dia tidak memiliki obat antidiabetes modern. “Ini obat yang paling laris dan banyak yang pakai,” kata Heru, seorang pedagang di Pasar Pramuka.

Para penjual bahkan tidak ta-hu-menahu efek samping yang muncul akibat minum obat-obatan tersebut. Mereka hanya mencari keterangan yang ada di dalam brosur. Jika tidak ada keterangan mengenai efek sampingnya, mereka pun tidak bisa menjelaskan kepada pembeli.
Selain tidak mencantumkan efek sampingnya, obat-obatan Cina yang dijual di Pasar Jati-negara dan Pasar Pramuka juga banyak yang tidak mencantumkan komposisi bahan. Misalnya saja, obat antirematik dengan merek Shaolin Pills atau obat pelangsing bermerek Proslim.

Kedua obat tersebut hanya mencantumkan aturan pemakaian dan indikasi penyakit yang diderita. “Kalau pakai Proslim, dalam sebulan bisa turun sampai empat kilo,” kata Hardi -bukan nama sebenarnya-pemilik toko obat di Pasar Jatinegara.
Menurut para pemilik toko obat di Jatinegara dan Pramuka, obat-obatan tersebut mereka peroleh dari sales yang datang berkeliling ke setiap toko .
Mereka menawarkan obat tersebut sambil membawa beberapa contoh.
***
MINAT konsumen yang besar untuk membeli obat-obat tradisional Cina, juga dijumpai di kawasan Glodok dan Pasar Baru. Mereka terlihat lebih mempercayai khasiat obat-obat Cina, tanpa memperhitungkan efek sampingnya. Meski penjual juga memperdagangkan obat-obat kimia modern, tetap saja sebagian besar konsumen memilih obat-obat Cina.

Kalau setiap pembeli menanyakan kepada penjual tentang khasiatnya, penjual cenderung tidak menerangkan secara detail. Penjual ingin agar konsumen langsung membeli obat yang ditawarkannya. Jika ada konsumen yang menanyakan efek samping, jawaban biasanya hanya sekenanya.

Salah satu penjual di toko obat di kawasan Pasar Baru misalnya menjawab, “Oh, enggak, enggak ada efek sampingnya. Hanya harus diperhatikan, kalau minum obat-obat Cina, minumnya jangan bersamaan dengan obat dokter. Paling tidak, kita harus menunggu dua sampai tiga jam dulu.”

Selain itu, katanya, jangan lupa makan nasi terlebih dahulu supaya lambungnya tidak sakit. Peringatan seperti ini nampaknya sama kalau kita harus minum obat-obat dokter.

Dari toko satu ke toko lainnya, harga-harga obat Cina bisa sangat bervariasi. Artinya, untuk satu obat yang sama saja, antara toko yang satu dengan yang lain bisa terjadi perbedaan. Meski sudah diberi label harga pada kemasannya, tetap saja konsumen dapat mengadakan tawar-menawar dengan penjual.
***

SEKITAR 15 tahun lalu, obat-obat “tradisional aspal (asli tapi palsu)” Cina ini sudah ramai dipersoalkan, namun tetap saja demand masyarakat awam tinggi. Dokter ahli neuromuskuloskeletal (syaraf, otot dan tulang) Prof Dr Priguna Sidharta dalam majalah Farmakon edisi 28 Mei 1984 telah mengingatkan bahwa obat-obat antirematik asal Cina, Hongkong, dan Taiwan yang beredar di Indonesia amat membahayakan, karena mengandung kortikosteroid dan obat anti-inflamasi nonsteroid (NSAID).

Menurut Prof Sidharta, kortikosteroid tidak boleh dipakai secara sembarangan, apalagi untuk jangka panjang karena dapat menimbulkan efek samping yang serius. Obat-obat antirematik seperti Papa Honsip (kini namanya diganti jadi Papai Honsip) dan Tung Shueh Pills, dinilainya sebagai bentuk penipuan terselubung, karena umumnya merupakan kombinasi antara NSAID
fenilbutazon atau oksifenbutazon dengan kortikosteroid prednisolon atau prednison.

Obat-obat antirematik sebenarnya hanya boleh diberikan dalam jangka pendek, namun dalam kenyataannya digunakan terus-menerus oleh si penderita untuk jangka panjang karena terasa manjur.

Kebiasaan 70 persen masyarakat kota maupun pedesaan untuk mencari dan minum obat sendiri tanpa resep dokter (self medication), memang amat memprihatinkan. Karena tanpa disadari, banyak kasus gagal ginjal, serangan jantung dan aneka penyakit lain karena kebiasaan ini.

Mahalnya harga obat-obatan resep (ethical drugs) dan tidak adanya sistem asuransi kesehatan membuat fenomena ini terus berlangsung hingga kini. Obat-obatan resep pun diperjualbelikan dengan bebas di toko-toko obat seperti di Pasar Pramuka, Roxy, Pasar Jatinegara, Glodok, dan Pasar Baru Jakarta, serta banyak tempat lain di seluruh Indonesia.

Selain itu masyarakat pun berpaling kepada obat-obatan bebas (over the counter, OTC drugs), jamu-jamuan dan obat tradisional, termasuk yang seolah-olah diimpor dari Cina.

Kebetulan pada masa Menteri Kesehatan Sujudi (1993-1998), obat-obatan tradisional Cina pun dijadikan obyekan “rente” dengan sistem stiker, mirip dengan minuman keras, oleh perusahaan yang di belakangnya disetir oleh salah seorang cucu mantan Presiden Soeharto dan putra seorang pejabat tinggi Departemen Kesehatan (Depkes) waktu itu.

Dengan dibukanya keran impor, membanjirlah obat-obatan Cina ke Indonesia pada masa itu. Har-ganya pun lalu melambung tinggi, hanya karena adanya stiker dan sistem monopoli. “Ini kesalahan Prof Sujudi. Kalau banyak warga masyarakat kita yang rusak ginjalnya karena obat-obatan tradisional Cina, ia seharusnya bertanggung jawab,” kata ahli farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Prof dr Iwan Darmansjah.

Prof Iwan pernah mengagumi kebijakan Pemerintah RRC dalam menskrining dan melakukan uji coba klinis semua obat-obatan tradisionalnya. “Semula uji klinisnya memang serius. Tetapi, belakangan jadi asal-asalan, karena orientasinya cuma bisnis,” katanya.

Konsumsi obat-obatan di Indonesia yang hanya 2-3 dollar AS per kapita per tahun, memang tidak terlalu terpengaruh karena adanya serbuan obat-obatan tradisional Cina. Namun, paling tidak pertumbuhan yang seharusnya diharapkan, sedikit banyak telah tersedot ke sektor obat-obatan yang banyak masuk secara cangkingan.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Farmasi Indonesia Anthony Ch Sunaryo menyatakan, pasar obat modern di Indonesia tidak terpengaruh oleh obat-obat-obat Cina ini. “Umumnya orang menggunakan obat Cina sebagai pendamping obat modern,,” katanya.

Dikatakan, dari data volume penjualan obat modern, terlihat tidak ada penurunan meski impor obat Cina sejak tahun 1994 meningkat drastis. “Sejauh ini belum ada keluhan dari kalangan industri obat modern,” tambahnya. Yang seharusnya mengeluh adalah para konsumen yang pas-pasan duitnya. Namun, kerap kali mereka hanya terima nasib saja kalau mengalami efek samping yang tak mereka pahami. (p06/p27/atk/ij)

Advertisements

67 responses to “The Man behind The Jarum Suntik and Jamu Setan…

  1. eddyjp said: Obatnya dukun juga berasal dari tetumbuhan kok sebenarnya, cuman di ekstrak zat berkahsiatnya, kemudian di uji klinik dan diproduksi massal, ada efek sampingnya karena dicantumkan, di jamu nggak ada karena nggak dicantumkan dan nggak ada uji klinisnya…he..he..Dukun galaks, itu jaman belanda Ton :))

    sampe skrg banyak lho dokter galak….ya dokter cowok, ya dokter cewek…..
    kitanya bayar mahal-mahal, tapi ogah ditanyain. malah kalo kebanyakan tanya diomelin, hiks…….
    saya pernah nih ampir nangis, nanya-nanya sakitnya anak, dokternya malah ngomelin…..dokter ngetop sih, makanya sok sibuk…..

  2. francisca2006 said: saya pernah nih ampir nangis, nanya-nanya sakitnya anak, dokternya malah ngomelin…..dokter ngetop sih, makanya sok sibuk…..

    Wah masih juga ada yang gitu ya Sisca ? padahal dikau udah nanya baik baik kan ?..he..he..he..bukannya kaya pasien daku ada yang suka biking bete, kalo kita kasih tau doi bilang "Masa ??"..he..he..he..atau ada lagi yang dijelaskan dengan jelas masih bolak balik kesitu lagi, akhirnya daku bel biar pasien lain masuk, tapi daku nggak usir doi keluar..he..he..udahannya, pasien yang masuk belakangan bilang, "untung aja dokter sabar, kalo saya sih jadi dokter udah saya usir dari tadi "..hi..hi..hi…

  3. francisca2006 said: saya pernah nih ampir nangis, nanya-nanya sakitnya anak, dokternya malah ngomelin…..dokter ngetop sih, makanya sok sibuk…..

    hehehe, waktu itu saya ga tau dia kasih antibiotika, dia ga bilang sih….setelah 3 hari kok tetep aja diare, saya bawa balik ke dia, saya bilang, obatnya ga saya kasih lagi, anaknya tetep diare, lagian kasian anaknya, obatnya pahitt….banget. trus, saya dimarahin. lho, dia ga bilang kalo antibiotika???? di bungkus obat jg ga ada keterangan apa-2. trus saya juga ada nanya-2 yg lain. gini, "dok, ini bener ga?……kalo gitu bener ga??? Nah, tambah diomelin deh….."Dokternya saya ato situ?" Liat mata saya berkaca-kaca, akhirnya baru berhenti, menghibur, iya, saya tau kamu bingung, baru pertama anak sakit kan…..Sharing ama temen-2 katanya emang gitu, setelah tambah bny pasien. Pdh dulunya dia ramah banget. Abis gitu tiap kali vaksin saya ga brani nanya deh, anaknya selesai disuntik, pasien lain udah masuk.

  4. francisca2006 said: saya pernah nih ampir nangis, nanya-nanya sakitnya anak, dokternya malah ngomelin…..dokter ngetop sih, makanya sok sibuk…..

    waktu mama saya sakit, dokternya juga nyebelin. Sambil liat hasil rontgent, senyum-2, bilang kalo umurnya ga sampe 6 bulan. Trus nanya, mo diapain?
    beda banget waktu saya bawa ke s’pore, ngomongin kalo udah ga ada harapan mukanya tuh serius, lalu kasih penjelasannya detail banget. ama pasien juga care banget…..ditelpon-2 mau. mama saya drop, meski ga praktek dia langsung dateng. dulu…nenek saya drop masuk RS, dokternya bilang mo dateng, dari pagi sampe malem ya tetep ga ada.

  5. francisca2006 said: setelah 3 hari kok tetep aja diare, saya bawa balik ke dia, saya bilang, obatnya ga saya kasih lagi, anaknya tetep diare, lagian kasian anaknya, obatnya pahitt….banget. trus, saya dimarahin. lho, dia ga bilang kalo antibiotika????

    He..he..he..dikau kalo mo berhentikan obat jangan sembarangan, katanya karena kesian anak…he…he..he..salah itu, kalo obatnya pait ya cari cara dong, tambahin gula atau sirup gula…he..he..he.sebenarnya dukunnya bisa tambahin pemanis buatan, itu nggak baik tapi.
    Koordinasi, itu kuncinya.

  6. francisca2006 said: waktu mama saya sakit, dokternya juga nyebelin. Sambil liat hasil rontgent, senyum-2, bilang kalo umurnya ga sampe 6 bulan. Trus nanya, mo diapain?

    Nah ini dukun IQnya oke tapi EQnya nggak oke, daku kalo ada yang gituan biasanya kasih tau keluarganya duluan, personal nggak akan dikasih tau duluan, kecuali pasiennya yang kuat mentalnya, karena sakit mental membunuh lebih cepat daripada penyakitnya.

  7. francisca2006 said: mama saya drop, meski ga praktek dia langsung dateng. dulu…nenek saya drop masuk RS, dokternya bilang mo dateng, dari pagi sampe malem ya tetep ga ada.

    Dikau kudu tanya doi kenapa..he..he..he.biasanya sih dukun spesialisnya kasih instruksi ke dukun jaganya dan memantaunya lewat telpon, tapi kalo udah janji mo datang ya harus datang, makanya jangan sembarang janji :))

  8. francisca2006 said: hhehehe….sori ya dok….tapi saya percaya deh, dokter disayang pasien…

    Ah, itu nggak penting Sisca, yang penting daku bekerja dengan cara kerja yang daku anggap bisa dipertanggungjawabkan, soal orang puas nggak itu terserah saja, dikau akan nggak bisa biking semua orang hepi..he..he..he..itu harapan sia sia, yang penting bekerja seprofesional mungkin.

  9. francisca2006 said: hhehehe….sori ya dok….tapi saya percaya deh, dokter disayang pasien…

    Ed, aku jadi inget pas dikasih obat cina u/ menambah napsu makan oleh kakaknya nyokap spy aku bertambah berat badan krn dianggap terlalu kurus! Padahal aku ngak ada masalah dgn makanan, cuma emang picky eater. Hasilnya persis spt yg ditulis oleh Eddy: muka bengkak & makan nonstop. Akhirnya, berakhir di rumah sakit :))
    Sejak saat itu, nyokap & aku trauma kalau ada yg kasih obat yg tidak bisa dipertanggungjawabkan 🙂

  10. lilyrupiana said: Mbah, artikel ini aku share di FB-ku ya? karena aku pikir ini penting untuk diketahui…Thanks

    Ly, yang tulisannya biru sileh saja, karena itu kutipan dari koran, kalo dongeng daku jangan yah, karena itu sifatnya dongeng personal buat dikau sekalian aja di MP sini..he.he.he.jaman ini UU ITE biking bete :))

    • Sampai hari ini kejadian ini masih berlangsung, semalam ada pasien yang mengalami moon face karena konsumsi steroid dosis tinggi, ironisnya doi beli dari toko kepunyaan adiknya sendiri, si adik sih suruh jangan teruskan tapi kok tega yah meracuni kakak sendiri *tak habis pikir*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s