Ikut adatKu Nggak ??? Or Pesta Kawin Batal !!!

Pesta kawin itu harusnya sesuatu yang menyenangkan tetapi banyak kali, itu malah biking ketegangan, keributan, atau bisa jadi batal.
Inilah kisahnya….
Datang dua orang perempuan, yang satu emaknya dan satu lagi anaknya feremfuan yang membawa cucunya yang sakit.

"Gulanya berapa nih Oma ?". dakiu

"Parah dok, aku lagi stress banget, gulanya 500" si oma.

"Haah, tinggi amat ?? " kata daku.

"Lha aku lagi pusing banget sama anak lanang (lelaki) yang mau menikah".

Daku lalu sok tau menasehati bahwa menikah itu urusan anak aja..he..he..he..

Nggak usahlah emak yang udah tua ikut campur yang akan menikah.

"Lha, itu ibu juga udah berusaha masa bodoh kok Dok" anaknya menimpali,

"Tapi bukan cuman ibu aja yang setress, kita sekeluarga juga, termasuk anak saya yang kecil ini"

He..he..he..usut punya usut, ternyata, anaknya orang Jawa akan menikah dengan orang aseli Jakarta.

Prens sebelumnya daku mau ingatkan dulu ya, ini bukan tulisan yang bersifat rasis tetapi tentang apa yang disebut sebagai Adat Penikahan.

Pastilah dikau sekalian sudah terbiasa dengan hal ini dan mungkin telah menjalani suka dan dukanya mengikuti prosesi pesta adat pernikahan.

Sebagian tentu tersenyum mengenang hal yang telah dilewatinya, sebagian kecil bisa jadi menjadi menggerutu kalo ingat akan hal yang telah menjadi beban pernikahannya.

Nah, kita kembali ke cerita serunya.

Mungkin kalo ada prens mengerti soal adat ini akan meluruskan hal yang ternyata tidak benar yang daku sebutkan ini..

Menurut si oma, anaknya sudah sejak jauh jauh hari mempersiapkan pernak pernik pernikahannya, katanya, penganten wanitanya tinggal bawa badan juga udah beres, karena perlengkapan penikahan telah dibeli cicil secara perlahan-lahan.

Tetapi sang calon besan wanitanya itu mau menjalani seluruh adat Betawinya.

Konon jumlah keranjang yang akan dibawakan pada hari pernikahan itu berjumlah….

28 keranjang termasuk sepasang Roti Buaya, dalam arti sebenarnya, roti berbentuk buaya panjangnya kurang lebih 1,5 m meter each, seharga 200 ribuan sepasangnya.

Seingat daku adat Betawi banyak bersinggungan dengan adat Cina.

Emak daku bercerita jaman dulu di kampung daku, penganten wanita diiringi tanjidor akan diarak menuju rumah lelaki.

Seiringan dengan membawa keranjang yang berisi mulai dari pakaian, perhiasan emas, peralatan rumah tangga.

Dan kalo adat Cina kuno masih dipakai, itu berarti sekalian membawa peti mati sang menantu dan semua tanggungan untuk anak yang akan dilahirkan kemudian.

Makanya dikau masih ingat bukan, di Cina dulu, pada jaman komunis Mao, dimana orang cuman boleh punya anak 1, banyak sekali anak perempuan dibunuh dengan cara disumbat dengan abu gosok karena tidak tahan dengan adat yang telah ada sejak jaman raja-raja Cina.

Jadi adat perkawinan seperti itu sangat memberatkan orang tua gadis yang tidak mempunyai doku yang tebal.

Jaman sekarang, adat perkawinan Cina di Indo sudah sangat disederhanakan.

Saat melamar istri daku cuman bawa kalung emas saja sebagai tanda sahnya.

Pada hari pernikahan , keluarga istri membawa beberapa nampan berisi minyak nyonnyong, perhiasan, uang…he..he..he..jumlahnya 8888888 atau 99999999 daku lupa.

Ibarat orang tua Quntien yang punya anak mau bilang "Anak feremfuan datang kerumah keluarga besar lelaki bukan dengan tangan kosong"..he..he..he..adat.

Tapi buat kami yang mau menikah, itu cuman sekedar adat tersisa saja, yang kalo nggak kami terima orang tua jadi kurang hepi.

Jadi ya sutralah ini masih mending…

Ada prens daku seorang dukun dari Indonesia Timur..

Pas doi pulang kampung sama calon istrinya kesana, tiba tiba saja disuruh kawin sama mertuanya, terang aja doi kelabakan.

Mana adat kawin di pulau itu suka berat, pihak calon mempelai wanita minta kerbau yang warnanya bule yang harganya Astagamurdina, jadi itu semacam gengsi bahwa doi dapat menantu oke punya…he..he..he.

Beruntung prensku, sang mertua yang mengeluarkan uangnya diam diam buat jaga muka doi…he..he..he..jadi prensku tenang tenang saja, daku kira mertua sudah cukup merasa bangga punya menantu seorang dukun yang sakti mandraguna..hua..ha..ha..

Konon banyak juga yang saking nggak sanggupnya, akhirnya berhutang meminjam dengan orang, ya itu habis kawin penuh hutang…he..he..he..kesian ya.

Ada lagi yang nekads kawin lari, tapi katanya lagi, itu bakalan diuber sampe ke ujung dunia karena berani mempermalukan kemaluan sang mertua…ha…ha..ha..

Pilihan lainnya mereka akan menikah dengan orang Sumatera yang adatnya aja menurut daku udah berat.

Tua tuanya udah nongol di rumah yang punya acara 1 minggu sebelumnya, kudu dikasih makan dan diladenin dengan baik…hi..hi..hi..berat sekali.

Tapi daku enjoy ikut tariannya beramai ramai keliling rumah, seru sekali.

Tetangga daku ada yang orang batak yang suka ceritakan adat kawinan mereka..he..he..he

So adatnya orang sumatera aja masih kalah ruwetnya coba…he..he..he..

Saat daku sedang ngobrol dengan seorang prens kita, daku tanya sama doi

"Tau nggak kenapa adat perkawinan dibuat begitu sulit kadang-kadang ?"

Doi menjawab: "Oh itu supaya orang tuanya merasa dihargain".

Daku bilang " Bukan…"

Menurut daku, sebagian besar itu adalah excuse aja dalam rangka mempersulit pihak lain, dalam arti kata "Owe cape-cape kasih pelihara anak sampai besar, entei enak-enak saja bawa pergi"…hua…ha..ha..

Jadi entu nggak jauh dari iklan rokok…

"Yang bisa Gampang kudu dibikin Susah, Tanya Kenapa ?? ".

Bukankah seharusnya adat pernikahan membuat kedua keluarga menjadi semakin akrab dan menyenangkan ?

Sehingga saat suatu keluarga muda dimulai semua orang disekililingnya tersenyum bahagia tanpa ganjalan adat yang menyisakan sedikit Bad Sector dalam Memory kedua keluarga :)).

Itu bukan cara yang baik untuk memulai sebuah kehidupan baru bukan ?

**Iseng iseng baca ini
Emak, Daku minta Kawin Hari Ini juga !!

Advertisements

55 responses to “Ikut adatKu Nggak ??? Or Pesta Kawin Batal !!!

  1. lbillstein said: Ed, yg 12 tahun ama bini no.1, lalu yg 13 tahun ama yg nomer 2…??? hahaha…..

    Maksud daku itu bini ke 12 atau ke 13..hua..ha..ha..mau saingan sama Muhasan :))

  2. lbillstein said: Thank God, cik Elly, aku diberkahi wajah yg awet muda. Bener, saya udah married hampir 20 tahun yg lalu…….

    Kalau married berbahagia, tentunya tidak terasa tahu2 sudah sekian tahun.

  3. lbillstein said: Thank God, cik Elly, aku diberkahi wajah yg awet muda. Bener, saya udah married hampir 20 tahun yg lalu…….

    emang kalo orangtua ndak ngerti mangsut dari prosesi pernikahan tapi ngotot ya begitu bikin ruwet & bisa jadi malah tawuran antar besan. Kalau ngerti kenapa dilakukan prosesi 1 sebelum prosesi 2 dst, bisa dilakukan kompromi dengan lebih adem antara adat 1 dengan adat lainnya, sehingga bisa didapat keselarasan dari perpaduan 2 adat yang berbeda.

  4. di2k said: emang kalo orangtua ndak ngerti mangsut dari prosesi pernikahan tapi ngotot ya begitu bikin ruwet & bisa jadi malah tawuran antar besan. Kalau ngerti kenapa dilakukan prosesi 1 sebelum prosesi 2 dst, bisa dilakukan kompromi dengan lebih adem antara adat 1 dengan adat lainnya, sehingga bisa didapat keselarasan dari perpaduan 2 adat yang berbeda.

    Setuju Dik, memang pekerjaan berat bagi kedua calon mempelai untuk menjadi juru damai kedua belah pihak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s