Malapetaka di Ruang Tunggu Dokter….

Jika dikau sedang tidak enak badan atau kesakitan dan harus duduk menunggu jam jam-an di rung tunggu dokter pastilah biking sengsara dan tersiksa bukan ?

Masih mendingan tidur tiduran di rumah sampai tiba giliran diperiksa, nongol tinggal masuk kedalam dan kemudian pulang, sangat praktis dan nyaman bukan ?

Nah, itulah cita cita daku sejak semasa masih kuliah dulu.
Kebetulan seorang dosen daku telah menerapkan hal itu di prakteknya dan berjalan dengan baik.

Sejak daku mulai praktek sendiri, selalu mencari ide untuk menghindarkan tumpukan pasien di ruang tunggu.
Pasien yang datang menunggu langsung dan booking lewat telpon dapat nomor sendiri sendiri.

Dimana banyak orang sakit berkumpul, maka disitulah ada bahaya bencana perberanteman yang bisa terjadi sewaktu waktu.
Semua orang pengen segera dapat giliran diperiksa..

Tetapi giliran masuk eh, malah ingin berlama lama dengan sang dukun di dalam ruang periksa , itulah masalah sesungguhnya 🙂

Memang setiap orang sakit tentu berhak mendapat pemeriksaan yang teliti, penjelasan detail dari, dan jikalau ada waktu masih sempat bergosip dengan sang dukun bukan ?…he..he..he.

Maka biasanya ada saja pasien yang mencoba menyogok sang petugas supaya bisa masuk dengan cepat.

Di tempat praktek seorang dukun yang sangat rame, pernah terjadi keributan besar antar pasien seperti yang kita tonton di bar para koboi.

Penyebabnya sederhana saja, sang resepsionis disogok oleh para pasien supaya bisa masuk lebih cepat.

Nah rule of law nya, jika orang menyogok tentu merasa paling berhak di istimewakan bukan ?
So sang tukang panggil nomor yang terima sogokan dari banyak orang akhirnya kelabakan juga.Karena ada yang tidak puas sudah sogok kok masih bisa disalib oleh orang lain yang mungkin sogokannya lebih besar.

Maka terjadilah pertengkaran hebats di ruang tunggu..
Dan lucunya sang dukun bukannya keluar melerainya tetapi malahan kabur dari pintu belakang prakteknya..ha..ha..ha..

Daku kasih tau dikau sebuah rahasia kecil.
Dikau tidak akan menemukan jam dinding di ruang praktek daku.
“Pelit amat Dok, masa ruang tunggunya nggak ada jam dindingnya ?” komplen beberapa pasien penasaran.

“Sengaja emang nggak dipasang…” daku.
“Kan nggak seberapa harganya Dok ?”

Bukan itu masalahnya…
Bila tidak ada jam dinding, maka yang menunggu hanya tau kok ini agak lama.

Tapi kalo doi liat jam dinding maka akan terasa jauh lebih lama lagi, mungkin teori relativitas Einstein bisa dipakai menerangkan hal ini.

Jika seseorang di suruh menunggu 1 jam diruang tunggu sambil memangku Jupe dan jam yang sama daku menunggu sambil memangku Tukul, tentu akan terasa lebih lama duduk menunggu sambil memangku Tukul….ha..ha..ha..

Idealnya, ruang tunggu yang nyaman itu ada majalah teranyar dan tipi alias televisi LCD 65 inchi.

Tetapi ya gitu lah, kenyataannya yang nongkrong di tembok ruang tunggu cuman tipi 14 inch, hadiah dari sebuah bank swasta…he..he.he..

Namun tipipun bisa bikin masalah juga….
Ada pasien yang nggak suka keberisikan suara tipi ini.
Ada yang minta tipinya nonton acara kesukaannya, sinetron, yang lainnya minta channel lain.

Jika musim bola piala eropa atau dunia, maka bapak bapak kalo nggak disetelin acara bola, maka umumnya ogah mengantar istri dan anaknya berobat…he..he..he..

Dulu jaman istri masih rajin langganan majalah wanita, daku suka membawa majalah bekas itu ke praktek tetapi majalahnya selalu diganggu.

Kadang halaman resep makanan disobekin oleh ibu ibu atau tips berkencan or memilih calon suami yang kaya suka di tilep sama anak gadis.

Survey membuktikan lelaki jarang ada yang mengganggu majalah, karena nggak ada majalah FHM, Matra atau Playboy di situ.

Kalo ada daku yakin kejadiannya akan lebih parah, majalahnya bakalan raib sama sekali..hua..ha..ha..

Pokoknya nggak mudah deh mau membuat orang sakit hepi dan bersabar menunggu gilirannya bertemu sama dukunnya.

Tapi ada dispensasi khusus untuk pasien anak anak,yang sedang sakit keras seperti muntahber, pusing tujuh keliling, lumpuh, dan yang menurut daku perlu didahulukan.
Kaloternyata bohong disuruh keluar dan ngantri lagi…he..he..he.

Advertisements

61 responses to “Malapetaka di Ruang Tunggu Dokter….

  1. backyardplus544 said: Dari pada baca majalah di tempat praktek dokter (majalahnya sudah berumur 1 tahun yang lalu, banyak kuman dan kumel…) mendingan beli bakpao yang mangkal di depan. Itu pengalaman, anak jadi doyan makan dan cepat sembuh.

    Ton, bakpao sayang anak sudah lama nggak pernah nangkring di depan praktek daku lagi, secara daku nggak pernah mau beli, rasanya kaya udah disimpan ratusan tahun…he..he..he..dan penuh minyak babi :))

  2. backyardplus544 said: Ngga usah nyogok, memang itu sabda dokter anak yang cukup laris (tahun 90an awal) di Tanjung Duren.

    Jadi dikau punya kartu VVIP ya Ton….hua..ha..ha..entah dikau masih relativenya sang dukun or anak dikau itu langganan tetap yang sakit sakitan melulu :))

  3. azizasf said: berarti gampang kalau mau masuk duluan..bawa makanan buat pak dokter..pasti disuruh masuk duluan..tapi untuk ngantar makanannya..kalau mau periksa ya kudu antri…ha…ha…

    Hua..ha..ha..dikau memang genius Tanti….he..he..he..

  4. azizasf said: berarti gampang kalau mau masuk duluan..bawa makanan buat pak dokter..pasti disuruh masuk duluan..tapi untuk ngantar makanannya..kalau mau periksa ya kudu antri…ha…ha…

    Bukan karena relative atau anak daku bikin dia kaya karena langganan. Rahasianya kami juga memberi service yang VIP kepada dukun S B ini.

    Yang penting sama dia harus hati2, jangan lupa bawa kartu pasien yang selalu diisi oleh dia dengan tulisan yang sangat rapi. Ada family kita yang lupa bawa, kena damprat!

  5. backyardplus544 said: Rahasianya kami juga memberi service yang VIP kepada dukun S B ini.

    Ho..ho..ho..itu toh, saling menyerpis namanya Ton.
    Kalo nggak bawa kartunya, doi tentu sebel karena nggak bisa liat contekan obat apa yang udah diberikan sebelonnya…he..he..he..

  6. backyardplus544 said: Rahasianya kami juga memberi service yang VIP kepada dukun S B ini.

    katanya pajak pendapatan dokter mau di naikin ya, makin banyak pasiennya makin gede pajaknya…. wah, jangan2 aturannya di bikin gara2 yg punya kuasa bete nungguin antrean dokter … 🙂

  7. mayaekt said: wah, jangan2 aturannya di bikin gara2 yg punya kuasa bete nungguin antrean dokter … 🙂

    Hua..ha.ha..kalo gitu orang pajak kudu dkasih kartu VVIP dong yah ? tapi begitu nanti Apa Kata Dunia hari gene kasih kartu VVIP buat petugas pajak…hua..ha..ha..

  8. lbillstein said: gimana kalo buka warung kopi pangku…? ditanggung rame deh…..hahaha….

    Kalo dokterku sudah tua, seharusnya uda pensiun tapi masih praktek. Bicaranya agak slow, jadi kita yg kudu sabar menunggu apa yg dokter mau katakan. Belum lagi dia cerita ttg pengalaman dia sebagai student di negaranya (Burma) ketemu Bung Karno. Wah tambah lama lagi deh buat pasien lain menunggunya. Kita jadi yg mendengar cerita dokter bukan dokter yg dengarin masalah penyakit kita ha ha ha

  9. angklung1 said: Kita jadi yg mendengar cerita dokter bukan dokter yg dengarin masalah penyakit kita ha ha ha

    Hua…ha..ha..daku jadi ingat dosen gizi daku Hen,doi diminta kasih tutor eh, malahan ngedongeng 2 jam nggak kelar kelar sampe pada manyun semua…ha..ha..ha..udah tua pada begitu semua ya :))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s