Kisah sebuah Tas LV, Bvlgari dan seorang Lelaki…..

Paling susah jika ingin menelpon ke hape Hani Switi pas lunch time..
Kebetulan kantor mereka makan di dalam, dan ruang makannya ada dilantai atas.
Biasanya hapenya pasti ditinggal di ruang kerjanya.
Kadang daku jadi senewen…

“Kenapa sih hape nggak dibawa sekalian sih ??”daku.

“Abis bajunya nggak punya kantong”Haniswiti.

???? 

Begitulah, pertukaran kata ini selalu berulang dan ulang lagi sampai timbullah pertanyaan abadi ini…

“Mengapa baju perempuan nggak ada kantongnya ????”

Bukan hanya kini, tapi mulai baju Chongsam sampe Kebaya kebanggaan nenek moyang semuanya selalu mementingkan estetika penampilan seorang feremfuan.

Daku sambil menerawang iseng iseng menduga duga jawabannya.Kalo kantong di baju atasan, tentu mengganggu buah buahan di kiri kanan dada dan merusak penampilan…hi..hi..hi..

Kalo di bawahan, seandainya di belakang, konon juga merusak penampilan juga, katanya fantat bohay nya nggak simetris lagi alias gede sebelah…he.he.he.

Mungkin itulah sebabnya mengapa dalam evolusi homo sapi-ens berkelamin perempuan,maka terciptalah dompet dan tas buat mengisi ketiadaan kantong di pakaian.

Sebuah dompet bagi seorang lelaki tak lebih daripada sekedar barang fungsional untuk menaruh uang atau credit card atau KTP supaya nggak ribet membawanya.

Dan, dompet lelaki itu selalu diletakkan di dalam kantong celananya..

Yakinlah jika ada lelaki yang tenteng dompet ditangan, ada kemungkinan doi mempunyai sisi kewanitaan yang kuat or doi itu seorang ekshibisionis…he..he.he.

Tentu saja, bagi wanita sebuah tas juga merupakan barang fungsional juga, tetapi oleh karena tiadanya kantong, maka “terpaksalah” di taruh diluar pakaian alias ditenteng tenteng.

Tak dapat disangkal lagi jika 2 orang feremfuan membawa tas saling berselisipan maka kemampuan supernaturalnya akan segera menebak kualitas dan kehalusan tas yang sedang ditenteng oleh “saingannya”…he.he.he.

Well, kualitas selalu berkenaan dengan harga, dan uang tak pandai membohong ‘bok,barang bermerek mahal tentu ada sebabnya, begitulah teorinya…he.he.he.

Hani Switi pada dasarnya adalah seorang feremfuan fungsional sekaligus estetik..

Namun setelah menikah dengan suami yang fungsional murni seperti daku, berakibat doi jadi berubah seleranya.
Sisi fungsionalnya bertambah dominan.

Artinya.. doi kalo beli tas kurang peduli dengan aseli nggaknya sebuah tas, asal doi suka rupanya dan harganya oke, barang KaWe-an juga dibelinya…ha.ha.ha..

Pernah daku tawarkan untuk kasih kado ultah sebuah tas eLVi seharga 1200 dolaran seperti kepunyaan adeknya yang pernah tinggal di US sebagai “soal ujian”.

“Buat apa, uang segitu bisa buat gonta ganti tas elvi kawean sampe bosan, mending buat makan enak enak” begitu jawabannya, sesuai dengan dugaan daku..ha.ha.ha.

Makanya ladies, berhati hatilah memilih suami, sebab Behind every Great Woman there is A Pelits, eh Great Man….ha..ha.ha..


Repot emang kalo isteri sudah turun kadar gengsinya.

Suatu kalo para kolega dikantor doi naksir dengan tas baru doi…

Doi nggak keberatan membuka rahasia kalo harga tasnya cuman 50 $RI alias goban, dannnnn ” Masa sih ??” komen temannya.

Well, doi sudah berhasil membuktikan teori bahwa…
“Harga dan gengsi sebuah tas itu ditentukan oleh siapa yang menentengnya” ha..ha..ha..

Tantenya Hani Switi mendapat kado ultah dari menantu’snya sebuah tas Bvlgari seharga 8 jetian.

Seperti biasanya, orang tua terlalu sayang dengan tas mahal sehingga hanya disimpan didalam lemari untuk dipandang dan dielus elus doangan.

Kedua menantu kesayangannya memberi dorongan “Ma, jangan disimpan doangan, kalo nggak dipake nanti udah nggak model lagi lho”

Maka jadilah doi memakai tas Bvlgari perdana saat plesiran ke Batam bersama si Om..

Dibawah cahaya petromaks nan romantis di Batam,mereka makan duren yang rasannya manis dan “wangi” luar biasa.
si Om langsung jatuh cinta dengan rasanya dan ingin membawa pulang bibit buah super itu serta menanamnya dirumah nanti.

Dengan cueksnya si Om mau memasukkan biji duren bekas emutannya kedalam tas kesayangan si Tante, keruan doi ngomel ngomel…

“Dasar lelaki tak punya perasaan…..”
..hua.ha.ha..kata si Om sih itu cuman ujian.

Tapi ada satu hal yang daku kurang mengerti…
Apakah para emaks sadar, semakin lama mereka memakai sebuah tas, semakin kotor tasnya itu, kerna dibawa dan ditaruh dimana mana, atau setidaknya nempel ditangan yang tak selalu bersih dan menyimpan uang yang kotor dan tahunan tak pernah dicuci !!!

“C’mon ladies, semahal apapun tas dikau, itu joroks namanya”..ha..ha.ha..
Makanya daku suka dengan tas Kipling yang rada noraks warnanya, tapi enteng bisa dilipat dan jika abis travelling bisa dicuci kalo udah kotor.
Rasanya ini lebih higienis yah…he.he.he.

Advertisements

164 responses to “Kisah sebuah Tas LV, Bvlgari dan seorang Lelaki…..

  1. angelamicin said: ternyata tante Hani Switi punya jawaban yg sama ye dgn daku wekekek

    Yang terjadi di arena online, banyak jual beli tas Coach bekas dengan kondisi katanya bagus, masih lengkap dengan tag dsb. Waktu datang, banyak yang sudah kusem….Ini tentunya buntutnya reputasi Coach yang kena juga. Jadi mereka geram.
    Kalau lihat namanya, kemungkinan dia Korea. Memang orang Asia kurang pede, banyak ngejar barang begituan sampai harganya melambung diluar akal sehat. Akhirnya banyak yang yang palsu, itupun mahal. Bule pada umumnya cuek, kecuali yang blonde….

  2. backyardplus544 said: Yang terjadi di arena online, banyak jual beli tas Coach bekas dengan kondisi katanya bagus, masih lengkap dengan tag dsb. Waktu datang, banyak yang sudah kusem….Ini tentunya buntutnya reputasi Coach yang kena juga. Jadi mereka geram.

    Mungkin belanja tas gini kudu ketemu muka dan liat langsung aselinya Ton, itu yang dilakukan orang di Jakarta, keponakan daku ada jualan barang online, langganannya mintan ketemu bawa barang :))

  3. eddyjp said: Mungkin belanja tas gini kudu ketemu muka dan liat langsung aselinya Ton, itu yang dilakukan orang di Jakarta, keponakan daku ada jualan barang online, langganannya mintan ketemu bawa barang :))

    Susah dilakukan di sini karena pelakunya orang yang beda kota, bahkan beda propinsi.
    Ada dugaan, bahwa Kim beli banyak barang waktu dia kerja di Coach dengan harga discount pegawai. Kemudian sekarang (atau sudah dilakukan masa lalu) dia jual dengan harga sedikit miring. Beberapa perusahaan, ada peraturan bahwa employee dapat harga discount tetapi untuk dipakai sendiri, tak boleh dijual lagi.
    Menang atau kalah si Kim harus bayar biaya lawyer yang tidak sedikit jumlahnya.

  4. backyardplus544 said: Beberapa perusahaan, ada peraturan bahwa employee dapat harga discount tetapi untuk dipakai sendiri, tak boleh dijual lagi.

    Maksudnya nggak boleh jual lagi selagi doi masih pegawai disitu atau udah pensiun tetap nggak boleh ?

  5. backyardplus544 said: Beberapa perusahaan, ada peraturan bahwa employee dapat harga discount tetapi untuk dipakai sendiri, tak boleh dijual lagi.

    Ha..ha..
    Kamu ini orangnya selalu mencari celah….
    Doeloe waktu beli kan janjinya "untuk dipakai sendiri". Itu saja yang harus ditepati.

  6. lbillstein said: mgkn dikau bisa inisiatip bikin oroton KW, Ed………hahahaha………

    Ide yang sangat menarik Linda, tapi bisa repot ntar kalo biking Kw an Oroton ketangkep ntar Winda dan dikau bisa tersangkut paut lho, yang kasih ide..ha.ha.ha.

  7. backyardplus544 said: Ha..ha..Kamu ini orangnya selalu mencari celah….Doeloe waktu beli kan janjinya "untuk dipakai sendiri". Itu saja yang harus ditepati.

    He..he.he.maksud daku kali udah dipake sendiri terus bosen, ada yang naksir masa nggak boleh dijual sih Ton ?..ha..ha.ha..Garage sale aja nggak ditangkep kok :))

  8. eddyjp said: ha..ha.ha..Garage sale aja nggak ditangkep kok :))

    Biasanya orang di sini kalau sudah tidak bisa pakai atau bosan barangnya di donate ke yayasan sosial. Donate = diberikan secara cuma cuma. Penyumbang dapat sepotong kertas tanda terima yang dapat meringankan pembayaran pajak tahunan, bila memenuhi syarat.
    Yayasan menyumbangkan ke orang yang tak mampu atau dijual ditokonya dengan harga 99 cen- lima dollar untuk orang yang kurang mampu.
    Garage sale biasanya untuk orang yang butuh duwit. Itupun tidak bisa jual mahal. Kalau sering bikin garase sale, uangnya harus di laporkan di pajak. Bila tetangga lapor, petugas pajak bisa datang.

  9. eddyjp said: ha..ha.ha..Garage sale aja nggak ditangkep kok :))

    hmm, yayayaya. memang sebagian besar tidak mempersoalkan merk atau tidak kecuali mereka yang fanatik merk, model bagus ga bagus, butuh ga butuh ya dibeli saja

  10. wprazh said: hmm, yayayaya. memang sebagian besar tidak mempersoalkan merk atau tidak kecuali mereka yang fanatik merk, model bagus ga bagus, butuh ga butuh ya dibeli saja

    He..he.he..peluang membuat tas merek baru Well :)) pasti laku kalo desainnya menarik :))

  11. tantantri said: aku juga paling suka sama kipling… punya link di mana bisa dpt kilping dg harga murah? min kw super super ya

    He..he.he..daku nggak punya linknya, biasanya cari ke mangdu, hati hati ya sekarang banyak razia barang kawean lho katanya 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s