Valentine : Semangkok Bakmi Kepiting Sebagai Tanda Cinta…

Minggu pagi yang cerah, before 08.00….

Sembari masih terkantuk kantuk daku membuka kulkas mengeluarkan sebuah rantang yang berisi Bakmi Kepiting lalu berjalan ke dapur dan menuangkannya kedalam air mendidih..

Sekilas ada banyak cengkong kepiting yang kecil kecil..

Kemudian daku menambahkan sedikit garam, sedikit racun, bawang putih goreng, daun bawang dan merica lalu mengangkatnya berikut pancinya sekalian ke meja makan.

Di meja makan tampak 2 piring porselin putih berisi Bakmi Kepiting yang sudah dipanaskan oleh mbak pake microwave bersuhu rendah untuk menghangatkannya setelah masuk ke kulkas semalam.

Daku perhatikan ada banyak juga cengkong kepiting rebus kinyis kinyis yang sudah matang berserakan diantara bakminya.
Tiba tiba saja daku tersadar dari kantuk memandang bentuk hidangan bakmi didepan daku, jantung daku mo copot rasanya *lebay* .

bakmi kepiting doang

Langsung daku mengambil hape menelpon si Dul, sopir daku.

“Ya pak….” serak serak suara si Dul, baru bangun sepertinya.
“Dul, semalam kamu ambil bakmi ada diperiksa nggak sih, kok isinya cuman kepiting semuanya ??!!”.  😦

“Nggak tau pak, Ai cuman tinggal ambil doang, yang pesan kan si Las ”

“Ya sudah..” daku menutup konversesyen, dan langsung telpon si Las, asisten di tempat praktek daku.

” Las ?? ” daku.
“Ya pak ??” Las dengan suara serak, baru bangun juga kayaknya.
“Semalem kamu pesan Yam Mie nya dimana ? Kok isinya cengkong kepiting semua ??”
“Hahh, biasa kok pak, beli sama ‘Bakmi Tak Enak’ dan pesannya NGGAK pakek kepiting ..” Las.

“Ya udah deh…” daku lemes menutup telpon.

Harapan mengisi pagi yang cerah ini dengan  semangkok Bakmi Kuah yang enaks sirna sudah.

Jika dikau bukan orang Quntien, dan tak pernah menyicipi bakmi Kepiting khas Quntien , inilah kisah dibalik dongeng diatas….

Karena daku praktek dari sore sampai tengah malam, biasanya daku suka membeli cemilan kecil buat mengisi perut.

Dan yang namanya cemilan kecil seusai makan sore yang paling digemari orang Quntien adalah semangkok Bakmi Kepiting.

Versi penyajian Bakmi Kepiting cuman ada 2, dikuah atau kering alias Yam Mie atau dalam bahasa khek Yam Mien inilah yang menjadi favoritnya orang Quntien.

Yam Mie ini sebenarnya lebih cocok diterjemahkan sebagai Bakmi Kocok daripada Bakmi Kepiting karena dalam penyajiannya, bakmi ini kering mirip Bakmi Ayam di Jakarta.

Tapi beda dalam bumbunya kerna rasanya mienya gurih keaseman dan ” temen temannya” pun sangat berbeda dibanding bakmi ayam yang isinya ayam entah direbus lalu potong kecil kecil atau di tumis dengan kecap dan jamur.

Jika dikau lahir di Quntien dan tumbuh besar sembari dicekoki Yam Mie sejak kecil maka gambaran semangkok bakmi ideal akan terpatri di otak.

Jaman daku masih kecil, babe fanatik sekali sama kedai Bakmi Kepiting Oukie alias si tahi lalat hitam, sesuai dengan yang empunya nama, sang encek punya tahi lalat pembawa hoki di pipinya.  🙂

Selama tahunan setiap minggu pastilah kami akan mampir sekali kesana sekeluarga, dalam ingatan daku doi sebenarnya bukan favorit daku karena bakmi suka disajikan dalam keadaan agak lembek dan becek.

So, daku suka minta kecap ikan tambahan secukupnya untuk menambah citarasanya.

Tapi di jaman itu dalam segi penyajiannya doi termasuk cukup lengkap.

Ada perbedaan yang sangat besar antara cara makan bakmi Yam Mie dan Bakmi Ayam dalam berbagai versinya di Jakarta ini, jangan pernah sekali kali menyiramkan kuah yang disajikan terpisah kedalamnya karena merusak rasanya.

Makanya pertama kali daku menclok di Jakarta bingung liat cara orang Jakarta makan Bakmi Ayam, masa sih kuah disiramkan, jadinya nggak jelas apakah itu bakmi kering atau kuah dan rasanya pasti tak aseli lagi…he.he.he..

Kalo di Quntien, mau makan bakmi pake kuah yah pesan aja Bakmi Kepiting Kuah, begitu rule-nya.

Semasa daku SMA hampir setiap malam daku selalu mengisi perut bersama hopeng daku di Yam Mie langganan kami di kaki lima tak jauh dari rumah oma daku.

Entah kenapa tak jauh dari rumah oma daku ini adalah pusatnya bakmi Quntien terenak selalu muncul disana.

Dalam range 200 meter persegi paling tidak ada 4 kedai Bakmi Yam Mie yang secara perlahan lahan menjadi terkenal dan sangat ramai langganannya tetapi kemudian pindah ke kota besar atau jadi sepi lagi karena chef lamanya isded.Orang Quntien sangat senang melakukan ekspansi bisnis ke Jakarta..

So, tak jarang penjualnya nekads menutup lapaknya yang ramai lalu pindah ke Jakarta karena menganggao pasar di Jakarta lebih besar daripada kota kecil ala Quntien.

Jaman daku kuliah di Jakarta, bakmi kepiting dikawasan mangga besar adalah sebuah kedai Bakmi Kepiting Adjiau, pindahan dari Quntien, daku puji sebagai penyaji Yam Mie terenak seantero jagad Quntien 🙂

Rasanya sangat pas dan bakminya tidak becek.

Di jaman itu Bakmie Oukie juga telah hijrah ke Jakarta dan buka tak jauh dari situ tetapi kalah pamor sama doi, yang satu rame bangets, yang satunya biasa biasa saja.Biasanya, pemilik kedai bakmi merangkap sebagai Chefnya turun tangan langsung mulai dari pembuatan bakmi mentahnya sampai tersaji apik dimeja langganannya.

Sayangnya keahlian ini jarang bisa diturunkan dengan sempurna ke anak cucunya sehingga bisa lari pakemnya.
Itulah sebabnya beberapa tahun ini daku jarang mampir ke kedai Adjiau sejak doi meninggal dunia.

Bakmi Oukie akhirnya balek kampung dan jualan di Quntien lagi, dan termasuk yang sangat digemari di Quntien sampai sekarang, tapi menurut daku sih rasanya tidak sangat istimewa.

Well, mungkin hokinya tak bisa menyebrangi lautan..he.he.he.

Bakmi Oukie

foto source : Vingle Net

Di kawasan Little Quntien dimana daku praktek bertebaran kedai Yam Mie tapi tak ada yang memenuhi standar lidah daku yang selalu merindukan rasa yang sempurna.

Kesempurnaan penyajian Yam Mie bisa dikatagorikan dalam 2 hal…
Pertama rasanya mienya yang harus pas..
Untuk bisa memenuhi ini biasanya mienya harus dibiking khusus, biasanya bakmi yang bagus,mienya cenderung lebih kecil dan halus serta tidak tercium bau integredien mienya.

Kebanyakan mie di Jakarta tak mencapai standar yang sempurna karena mienya outsourcing…he.he.he..

Jika si Quntien, biasanya pemilik bakmi kepiting biasanya merangkap chef utamanya untuk menjaga mutu.

Tapi di Jakarta masternya jarang turun tangan sendiri, dan biasanya mas mas yang menjadi chefnya dan bossnya cuman tukang terima duitnya terutama yang buka cabang sana sini..he.he.he.

Walau bumbunya sama, dikau tak mungkin mengharapkan seorang mas jawa bisa menyajikan rasa engko Quntien sebaliknya juga demikian, so biasanya sang emas lebih mirip menyajikan semangkok bakmi ayam ketimbang bakmi kepiting…wakakakakakakKedua, teman temannya bakmi harus sempurna, ini meliputi..

Bakso ikan bulat, bakso ikan gepeng memanjang ada yang direbus, dan digoreng dengan sedikit berbeda rasanya.

He pia udang alias thin shrimp cake yang dibuat memanjang dan di goreng yang dipotong memanjang, dan kadang ada yang menambahkan seekor udang yang ukurannya sedang, bisa direbus bisa juga digoreng tepung.Nah udang rebus ini sangat daku benci semasa kecil dulu karena dalam penyajiannya dibelah dua dan seringnya “tai item”nya nggak dibuang terlebih dahulu, sehingga berbau amis.

Karena ikan menjadi bahan utama dalam menyajikan Yam Mie, umumnya di Quntien ikan melimpah ruah, so tak sulit untuk menjajikannya dalam kadar daging ikannya yang cukup tinggi dan segar.

Nah, inilah kelemahan paling besar bagi penjual bakmi kepiting di Jakarta.

Mungkin karena ikan sangat mahal di jakarta sehingga tak jarang mereka meniru cara orang

Jakarta membuat bakso, yang menurut daku keliwatan banyak tepungnya sehingga gembos dan yang paling menyebalkan lagi, bau amis !!

Itulah sebabnya daku tak pernah suka makan bakso ikan ala Jakarta, baik versi kaki lima sampai resto berbintang problem ini selalu sama, bentuknya bulat besar tak sebesar rasanya.

Mungkin beginilah caranya orang Jakarta menikmati bakso ikan, mirip seperti orang semarang menikmati rebung yang bau pipis bukang kepalang….ha.ha.ha.

Inilah sebab utama daku selalu gonta ganti langganan Yam Mie sejak bakmi kepiting mendiang Adjiau tak berkuasa lagi…

Langganan daku yang terakhir ini bakso ikannya tetap ala jakarta tapi amisnya kurang berasa, well bagi daku itu tetap tak enak.Itulah sebabnya daku menamakannya Bakmi Nggak Enak..ha.ha.ha..So jikalau dikau bertanya apa nama aseli kedai Yam Mie itu, nggak bakalan daku

kasih tau dan jikalau dikau berhasil mengetahuinya maka daku tidak akan mengakui telah mengatakan demikian secara daku masih akan beli sama doi, jangan sampe daku diracuni..hua.ha.ha…

Apa yang daku sebutkan tak menjadi patokan….
Apa yang nggak enak versi daku belon tentu nggak enak di lidah dikau sekalian.

Itu karena daku sejak kecil hingga besar telah memakannya, tentu beda dengan dikau yang nggak tau versi awalnya seperti apa.

Misalnya saja menurut Gudeg Jogya versi Jakarta lebih enak bagi lidah daku dibandingkan dengan Gudeg Jogya aseli Jogya yang sangat terkenal disana, itu karena lidah daku lebih terbiasa dengan rasa asin daripada manis.

Dan dalam vocab lidah daku, tiada mengenal taste dengan katagori :
“Tidak Mengecewakan” seperti versinya Peter untuk taste yang sedang sedang saja tidak berlaku bagi daku karena menyangkut masakan khas Quntien.

Yang ada cuman katagori Enak atau Tak Enak, very simple..ha.ha.ha..

Oh ya, hampir lupa….

Sesuai dengan namanya bakmi kepiting, tentu harus ada suwiran daging kepiting dan sebuah cengkong kepiting selalu menjadi ciri khas penyajian Yam Mie, dan juga menjadi faktor yang menentukan harga serta gengsi dari semangkok bakmi kepiting.

Orang Quntien memang suka pamer jikalau makan…..

Biasanya yang menganggap dirinya jago makan atau berkantong tebal suka spesial order ekstra sebuah cengkong kepiting.

Itu artinya bisa menaikkan harga semangkok bakmi kepiting jauh daripada seharusnya, dan harga ini cenderung suka suka, artinya semakin besar cengkongnya maka semakin mahal harganya tanpa ada patokan yang jelas.

Maka tak heran jikalau dikau menemukan ada kedai Bakmi Kepiting yang menyediakan Cengkong Raksasa demi memuaskan kepuasan rasa dan gengsi langgannnya.

Bagi daku, cengkong kepiting rebus sebenarnya tak menambahkan rasa istimewa untuk dinikmati sambil memakan miennya, cukup sedikit suwiran daging kepiting sudahlah pas.

Yang penting daging kepitingnya benar benar harus fresh dan tidak amis maupun bau pipis.Apalagi sejak ada isue formalin di Jakarta, daku selalu minta kepiting ini ditukar dengan menambah bakso ikan saja.

Itulah sebabnya, bakmi kepiting yang daku pesan tak pernah ada kepitingnya…he.he.he..

Jadi sebenarnya bakmi kepiting itu lebih cocok disebut sebagai bakmi ikan mengingat kebanyakan integredientnya terbuat dari ikan.

Dan semangkok bakmi kepiting mencapai kesempurnaannya jika ditambahkan pangsit ikan yang kulit terbuat dari daging olahan ikan yang dibuat tipis seperti kulit pangsit dan isinya adalah kulit ikan yang sudah digoreng dengan bumbu yang maknyus.

Tak jarang karena kesulitan dengan task ini penjualnya hanya menambahkan sebuat pangsit goreng sebagai gantinya, mungkin untuk memotong harga dan kerepotan.

Nah, karena Yam Mie yang daku beli sering daku olah menjadi semangkok Sak Mie alias Mie Rebus Kepiting cukup menghibur diri..

Si triplets juga senang memakannya jika sedang nggak mood memakan Yam Mie yang daku bawa pulang itu.

Untunglah sekarang ada kabar baiknya…

Emak daku beberapa kali membawa pulang sebungkus Yam Mie yang mendekati kesempurnaan penyajiannya dari kawasan Sunter, hanya saja seperti kelemahan dari kedai Yam Mie ala Quntien saking pedenya, sering tidak mencantumkan merek dagangnya. sehingga orang kelabakan mencari lokasinya.

Sepertinya ada kebanggaan bagi penjualnya jika orang kelimpungan mencari kedai doi..he.he.he.

Semoga saja doi bisa menjadi reputasi rasanya sampai tahun tahun ke depan dan bertambah enaks dikemudian hari.

Demikianlah temans kisah tak penting ini..he.he.he..

PERINGATAN buat temans yang muslim, walau namanya bakmi kepiting tetaplah tidak halal untuk dikau sekalian….
Kerna berbeda dengan bakmi ayam yang penyajiannya dengan minyak kulit ayam+bawang, bakmi kepiting memakai minyak dari babi kecap dari daging samcan alias daging berlemak 3 lapis untuk mengaduk dan menambah citarasa mienya..he.he.he.

NB: Walau daku makan sembari uring uringan, Dedek yang duduk disebelah daku bilang

“Pa boleh nggak aku habisin semua ??”

Hwaaaa, anak daku satu ini merusak pasaran deh…ha.ha.ha..

Advertisements

109 responses to “Valentine : Semangkok Bakmi Kepiting Sebagai Tanda Cinta…

  1. backyardplus544 said: Bukan masalah pulau, tetapi kota besar seperti Pontianak aka Quntien kok tidak ada labelnya. Sebaliknya di Kalimantan Utara, semuanya komplit termasuk Sibu dll. Google Earth melihat masih hutan semua berisi bukan manusia. Tolong kasih tahu Edd.

    Daku udah liat, emang nggak ada yah *garuk garuk kepala* pas daku ketik Pontianak, cuman muncul huruf A yang menunjukkan lokasi doangan.

  2. amadeus18 said: bakmi paling enak di Jkt & Bogor deh top..kaga ada tandingan, disini bakmi kaga ada yg enak..harus bikin sendiri mirip2 ama yg di Jkt..

    Lain kali pas pulang sini beli, lalu bekuin bawa kesana D pake cool box raksasa…ha.ha.ha.bisa buat jatah bulanan :)) Mie disini nggak amis bau telor, barangkali itu sebabnya :))

  3. eddyjp said: Eh, ini yang dekat pasar muara karang bukan Ton, yang tokonya 2 biji jadi 1, pernah juga makan yang didepan Pluit Plaza yang konon enak banget dan lebih mahal, daku makan disitu, biasa biasa aja, nggak beda rasanya dengan yang dibelakang Tomang Plaza, yang beda harganya doanga..ha.ha.ha. mie siantar tuh cenderung setengah matang Ton, mungkin sampe rumah udah lebih matang kebekep :))

    Doeloe zamannya masih ada Pluit Plaza, Mega Mall masih kubangan. Mie Keriting Siantar yang tersohor itu ada didepannya Pluit Plaza. Mie pangsit Tiong Siem dua atau tiga rumah sebelahnya. E mie dan Sate babi A Tjwan juga tetangganya.

    Muara Karang raya, sesudah jembatan ada yang jual soto ayam Medan cukup enak (lupa namanya).

  4. eddyjp said: Daku udah liat, emang nggak ada yah *garuk garuk kepala* pas daku ketik Pontianak, cuman muncul huruf A yang menunjukkan lokasi doangan.

    Bukannya kau biasa pakai wikimapia? Peta sih bagus, nama jalan yang kurang terekat di sana… B-)

  5. kumpulrebo said: Bukannya kau biasa pakai wikimapia? Peta sih bagus, nama jalan yang kurang terekat di sana… B-)

    Wah pake sekenannya Yan, sayang yah kalo jelas kan enak buat yang mau traveling kesana :))

  6. backyardplus544 said: Doeloe zamannya masih ada Pluit Plaza, Mega Mall masih kubangan. Mie Keriting Siantar yang tersohor itu ada didepannya Pluit Plaza. Mie pangsit Tiong Siem dua atau tiga rumah sebelahnya. E mie dan Sate babi A Tjwan juga tetangganya.

    Wah, itu daerah kekuasan dikau yah..he.he.he..daku suka makan yang dipentokan ujungnya jalan resto New Happy, kalo gak salah.

  7. eddyjp said: Wah, itu daerah kekuasan dikau yah..he.he.he..daku suka makan yang dipentokan ujungnya jalan resto New Happy, kalo gak salah.

    Perlu di kunjungi adalah pasar Muara Karang kalau hari sabtu atau minggu. Semua serba Medan. Banyak makanan kecil yang khas Medan, makanan mateng (rumahan) Medan. Sayur, ikan dan daging kwalitasnya bagus. Kebanyakan berbicara Hokian. Anehnya daku tak pernah disapa dengan bahasa Hokian, padahal tampang tak beda. Radar mereka sungguh canggih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s