Orang Kampung main ke Sydney (6)……..

Cuaca pagi hari ke 5 cukup baik sehingga kami memutuskan untuk main ke Hyde

Park, Kakak mirip dengan daku, suka menikmati taman dan pepohonan dan bunga.

Setelah melewati ritual makan mie dan pake baju berlapis lapis secara udara dingin, kami naik bus gratis 555 di depan halte didepan resto Crocodile Senior Thai tak lama kemudian sampailah ke taman kesohor itu.

Memang asik suasana di park di pagi hari, banyak ortu muda yang mendoronganaknya di kereta dorong main disana.

Balita bule kok anteng anteng bangets ya di kereta dorongnya, beda bangetsdengan balita Quntien yang liaran minta gendong melulu.he.he.he.
Mbak Tres pernah ceritakan konon setiap pohon besar di taman itudiasuransikan dengan mahal, secara tahun 2005 sebanyak 230 pohon besar yang

kena penyakit serangan jamur 3 macam sehingga dipindah dan digantikan.

Di taman itu banyak sekali tugu peringatan akan sesuatu kejadian yang besardi Aussie.

Salah satunya, patung peringatan Capten Cook yang telah menemukan benua

Australia dan memulai civilazation.

Tapi begitulah, itu titik permulaan anugerah bagi pendatang dari Inggrissekaligus musibah bagi

penduduk aseli Aborigin yang diperlakukan dengan semena mena dimasa lalu.Puas main disana, dan cuaca mulai mendung, kami menyebrang ke Sydney Museum

yang terkenal, Kakak ingin melihat lihat.

Australian Museum Sydney adalah museum tertua di Australia dengan reputasi internasional di bidang natural history dan antropologi.
Beberapa hari sebelumnya mbak TJ dan mbak Ratri memberitahu kami bahwa mereka dulu
pernah punya toko disana, sebagai representatif Indonesia wah hebats yah.Setelah masuk kesana, ternyata untuk menikmati museum kudu bayar dan itung punya itung pelit punya pelit akhirnya diputuskan daku saja yang masuk ke dalamnya.Lalu daku mendekati konter..”Yes, apa yang bisa Ai bantu, mau beli berapa tiket ?” petugas.

“Hmmm, begini Ser, daku kebelet pipis nih , boleh numpang wese nggak ?” daku tanpa basa basi…hua..ha.ha…

Memang ramah orang Sydney, walau daku gak beli tiket dipersilahkan masuk kedalam, kemudian daku tanya sana sini, sampailah di wese…legahhh…ha.ha.ha..

Disana sedang rame acara pengenalan museum untuk anak anak kecil, wah rame banget.

Sayang nggak poto didalam.Usai dari sana kami meluncur dengan kaki ke gereja katedral St Marry yang ada disebrangnya menyusul Hani Switi dan Kakak yang sudah pergi duluan.
Well, Hani Switi sekalian berdoa di gereja terbesar di Aussie itu memohon diberikan rejeki yang lancar dan kesehatan yang baik bisa main kesini lagi dan pengen punya anak lagi bangsa yah 3 lagi..ha.ha.ha.
Gereja ini mirip dengan gereja Katedral Jakarta yang terletak di depan mesjid Istiqlal, tapi interiornya indah dan banyak pernak perniknya, serta lebih informatif dengan pengunjung lewat buletinnya yang mengupdate perkembangan dan issue sosial berkenaan dengan gereja.
Well, jangan percaya begitu saja dengan daku, sebab terakhir daku masuk kekatedral Jakarta sekitar 10 tahun lalu..ha.ha.ha…Cuaca pagi itu berubah ubah seperti biasa, saat akan pulang hujan deras sekali, terpaksa kami menunggu dulu.Sepulang dari sana langsung menuju ke Central Station naik trem menuju ke Sydney Fish Market.

Yan ingin memamerkan eh, memperkenalkan fish market kebanggaan kota sydney yang konon merupakan fish market ketiga terbesar didunia.

Dan yang paling penting makan siang disana seperti rekomen ahli cicip dari Sydney..he.he.he.Rupanya Fish market nggak gitu jauh dari penginapan sebenarnya, tapi daripada nyasar nanti, paling gampang yah naik trem.Yan sudah wanti wanti, berhentinya di pemberhentian ke 3 sejak berangkat dari Central Station.

Maklum kampungan, belon pernah naik trem, rada bingung juga kok nggak beli karcis duluan, ternyata ada kondektur didalamnya yang muter bolak balik bertanya kemana tujuan kita kemudian menentukan harganya, menarik bayaran sekaligus ngasih karcis.

Dan seperti biasa, ada pahe alias paket hemat buat keluarga, 15 dolar bolak balik berlima, asik..he.he.he.

Petugasnya ramah, sayang nggak ke poto, maklumlah Koko dan Dedek masing masing pegang kamera tapi apa yang dipoto serba nggak jelas..he.he.he.Sampailah di pasar ikan Sydney, yang mengejutkan, nggak kayak pasar ikan diQuntien semasa daku kecil dulu suka ngintil emak, daku harus menahan napaskadang memencet hidung untuk mencegah bau tak diinginkan masuk ke saluran

napas.

Eh, ini malah nggak ada amisnya sama sekali, daku sangka ini kerna musim

dingin, sama seperti laut nggak bau

amis.

Tapi kata Yan, biar musim panas juga tak ada baunya karena sistim pembuangan

sampahnya luar biasa bagusnya.

Daku liat dari internet, sebenarnya ada tour ikut proses lelang di pasar

ikan, tapi pagi bangets, kita nggak sanggup punyalah.

Sesampai disana sudah ditunggu Yan, yang memperkenalkan salah satu kios buleyang sudah dibeli oleh orang cina daratan yang tadinya cuman pegawainya.

Wah ramai sekali orang makan disitu.
Yan mengajak ke resto jepang disitu membeli paket sushi dan sashimi.
Ternyata dikau betul prens, salmon segar yang dibiking sashimi memang nggak amis sama sekali, jadi yang daku makan dulu di Jakarta ?….yuckkk….he.he.he.
Setelah itu makan seafood di Peter’s.
Nyaris tak ada tempat kosong tersisa, Yan mengusulkan makan di tenda luarsaja sembari menikmati suasana pantai. Usul yang menarik.
Lalu Hani Switi dan Triplets cari tempat duduk dulu diluar sementara daku dan Yan mengantri makanan, tapi tak lama kemudian masuk lagi, “Kok balik lagi Ma ?””Diluaran banyak pubnya burung berserakan dimana mana, kayaknya nggak aman deh makan diluar keganggu sama burung”…ha.ha.ha…

Nampaknya burung yang dianggap hama oleh orang Aussie, sebenarnya sangat cantik buat orang dari kampung Indo, anak daku paling demen potoin burung ini kemanapun juga asal bertemu, kerna mereka tak takut orang, termasuk mencuri makanan.Terpaksalah kami mengincar tempat duduk di dalam
Peter’s BBQ Grill, yang lagi rame bangets jam makan siang.
Dan duduknyapun terpisah, daku dan Yan duduk dekat pintu masuk, sayangnya si triplets sibuk sama makanan dan tak sempat memfoto…he.he.he.
Well, inilah makanan yang dipesan.
Yan juga memesan selusin oyster segar dan memakannya tanpa perasan lemon “Merusak rasa ” saat daku nyengir menelan sebuah oyster yang sudah di lemonkan oleh Hani Switi dan memaksa daku menelannya..he.he.he..dikau emang hebats lidahnya Yan, omnivora sejati.

Lucunya pas daku melihat menu istimewa, langsung ngiler….

“Ser, kita pesan yang persis kayak ini yah, pake telor mata sampi 2 “
“Oh maap, kita nggak jual menu pake telor ceplok, ini buat kita makan sendiri” petugas mata sipit.”Ser, istri daku sedang nyidam lho, ayolah bolehlah, sileh saja mau dihitung berapa ” daku.
Tak lama doi cas cis cus dengan koki bule ( sebelah kiri ) yang sedang asik memasak di dapur, lalu si koki kasih kode, boleh..Horeee dan GRATIS lagi..he.he.he..

Well, boleh dikata mungkin dakulah orang pertama dari luar Aussie yang pernah memesan menu seafood plus telor disana..ha.ha.ha.
Dan sebagai ganti kebaikannya, daku memesan beberapa menu lagi ,

dan makan sampe kekenyangan dan bawa pulang sisa menu dibawah ini..

Daku jadi ingat dulu, semasa kecil, selalu membawa telor bebek sendiri ke warung kuetiaw sapi malam malam dan pesan kuetiaw bun sembari menyodorkan telor bebek mentah yang fresh dari kandang bebek di samping rumah untuk dicemplungin ke dalam, penjualnya tidak keberatan, karena begitulah kebiasaan kampung pelits Quntien…ha.ha.ha.Mungkin lain kali dikau yang tinggal disana boleh memulai tradisi Quntien di Fish Market, secara dengan penambahan telor mata sampi, makanan nampak lebih napsuin eh menggairahkan..he.he.he.Yan menyodorkan surprise tiket naik ferry dari Pyrmont Bay yang jaraknya 2 pemberhentian trem arah balik ke Central Station, dengan route menuju ke Circular Quay, of course lewat Opera House juga.


Well, bukannya daku ingin bermanis mulut bahwa daku sungguh enjoy naik Ferry kerna sudah diberi tiket gratis, tapi naik ferry memang menjadi kesukaan daku sejak kecil di Quntien dulu.
Jikalau sedang kurang kerjaan semasa SMP dulu, daku suka bawa sepeda naik ferry bolak balik menyebrangi sungai kapuas dengan alasan ingin main ke rumah prens daku disana.
Waktu itu jembatan Kapuas belum dibangun dan Ferry adalah satu satunya alat transportasi dalam ukuran besar yang bisa mengangkut kendaraan besar seperti mobil, truk dan motor dan lainnya dalam jumlah banyak.
Tapi ya itulah, jaman itu tahun 70an semua saling berdesak desakan, penuh sesak walau demikian daku selalu enjoy, jika petugasnya meleng, daku ikut nyebrang lagi tanpabayar..ha.ha.ha..Sekarang Ferry di Quntien lumayan okelah dibanding dengan di Sydney….Sebelum berangkat ke Sydney, Yan pernah mengusulkan kami tinggal di apartemen di sebrang Darling Harbour, dimana Anna, istri Yan, menunjukkan view yang biking doi jatuh cinta dengan kota Sydney, bahwa daku bisa menikmati view yang asik saban hari dengan naik Ferry.

Memang benar, sebab daku mulai tersenyum saat Ferry mulai berjalan, begitulah kenangan akan Quntien muncul lagi.
Ketika Ferry melewati bawah jembatan Harbour Bridge….
daku berguman kepada Hani Switi ” Ma, melewati jembatan ini sama persis seperti melewati bawah sungai Kapuas” Hani Switi mengangguk setuju.
Biasanya setiap kali pulang boyongan ke Quntien, daku selalu menyempatkan menyewa sebuah kapal motor yang suara mesinnya memekakkan telinga untuk membawa si triplets mengitari sungai Kapuas mulai dari Pasar Indah
sampai melewati bawah jembatan Kapuas, daku paling suka dengan rute sendiri ini.
So, Yan ini adalah salah satu lagi kesamaan antara Sydney dan Quntien…ha.ha.ha..
Pulang dari sana, kami mengejar jadwal datang ke Sydney Tower.
Terus terang aja, daku kurang interesan untuk datang kesana, karena menurut daku palingan gitu gitulah pemandangannya, alasan lainnya adalah kaki daku sudah tak koat jalan lagi, mending tidur dipenginapan aja, tapi berhubung udah bayar mana Quntieners sejati mau rugi percume .ha..ha.ha..Perjuangan kaki daku menuju Sydney Tower terbayar, saat kami tiba disanaudah magrib menjelang malam.
Wah, pemandangan kota bertaburkan lampu lampu ternyata sangat indah,mengingatkan daku akan pembukaan filem filem ala Holiwud yang sering dakutonton.

Sepulang dari sana, daku udah kecapean banget, tetap berhubung udah janjisama Chien,

pantang menyerah.

Kami dijemput dipenginapan oleh Hengky, Chien dan Edsel dan diajak makan

ke D’Grilled, chain burger resto favoritnya Edsel, anak Chien yang termasuk

pemilih makanan dan doyan omong..he.he.he.

Lumayan lama juga ngobrolnya, pulangnya masih mampir lagi ke kedai cemilanMeet Fresh di ujung jalan Dixon China Town, makan es cincau plus onde onde

franchise dari Taiwan yang tak pernah sepi sampai udah larut malam.

Wah menunya sangat menggiurkan tapi kalori tinggi…he.he.he.

Ini dia cincau ala taiwan alias Tradisionally Herbal Jelly

139 responses to “Orang Kampung main ke Sydney (6)……..

  1. eddyjp said: kalo dikau atau Linda yang ajar sih daku nggak tanya lagi ada sertipikat nggak, tak penting :))

    bwhahahahaha…
    aku gak punya sertipikat mbah, adanya setir kiri. meskipun gak punya sertipikat, dasar dasar fotografi ya ngertilah. beberapa kali punya murid (gak resmi sih), Alhamdulillah pada mudeng, ilmu bisa nyanthol. Dan yang penting lagi, mereka bisa praktek dengan sukses dan hasilnya lebih bagus dari sebelumnya, apalagi kalau hasilnya mengungguli gurunya, wah mak nyos rasanya.

    Aku udah mulai bikin tutorial fotografi ecek2.
    http://enkoos.multiply.com/journal/item/273/Fotografi_teknik_dasar_bahasa_umum

    Mudah2an ada mood untuk terus melanjutkan. Amin.

  2. eddyjp said: cuman ekskul sih :))

    Anakku disini juga ikut ekskul fotografi. Gak ada sertipikatnya juga. Teknik dasar gak diajarin, ternyata pelajaran menjurus ke program edit kayak photoshop gitu. Dia justru lebih banyak nanya ke emaknya ini dan sering hunting bareng.

    Jadi ya balik lagi ke seberapa serius dan seberapa tinggi minat si anak.

    Emang Indonesia apa2 sertipikat ya. Gak ada sertipikat gak dipercaya. Jadi inget pengalamanku waktu belajar komputer pertama kali. BElajar di kantor setelah jam kerja karena kalau kursus biayanya mahal. Setelah pindah perusahaan, nglamar nglamar ke tempat lain, ditanyain bisa komputer gak? aku jawab bisa, trus dimintain sertipikat. Gak punya lah aku. Gak diterima. Tapi syukur deh gak diterima, karena aku lantas ngelamar ditempat lain dan diterima. Tempatnya lebih cihui dan bergengsi, bayarannya juga lebih asoy, kemampuanku juga lebih terasah disana.

  3. eddyjp said: He..he.he.masalahnya kalo tatap muka langsung bisa lebih mantap kasih masukan dan koreksinya, kapan kapan dikau balek kampung daku booking yah :))

    Sippp. Insya Allah tahun depan mbah. Dan kayaknya harus mampir jakarta, karena ultah MPID biasanya diadakan bulan Juni Juli.

    Mengenai tatap muka, iya bener banget. lebih mak nyos diskusinya dan ngasih contoh soalnya. Kalau online gini, ribet nyusun kata2nya, belum lagi bikin contoh fotonya untuk menggambarkan berbagai kondisi foto. Makanya belum aku lanjutin juga, karena garuk garuk dengkul nyusunnya. Jadi guru ternyata rumit ya.

  4. eddyjp said: He..he.he.bukan ikan air tawar, tapi laut, ikan tawar tuh juga bisa…Cacing pita dewasa dinamakan Diphyllobothrium latum.Cacing dewasa memiliki beribu-ribu proglotid (bagian yang mengandung telur) dan panjangnya sampai 450-900 cm. Telurnya dikeluarkan dari proglotid di dalam usus dan dibuang melalui tinja. Telur akan mengeram dalam air tawar dan menghasilkan embrio, yang akan termakan oleh krustasea (binatang berkulit keras seperti udang, kepiting). Selanjutnya krustasea dimakan oleh ikan. Manusia terinfeksi bila memakan ikan air tawar terinfeksi yang mentah atau yang dimasak belum sampai matang.

    baiklah.. ku mikirmikir kalu makan mentah sih.. emang jarang kecuali restonya bagus.. tapi bukan jaminan kan ya..

  5. eddyjp said: Lha mengecewakan, masa udah bayar mahal mahal sampe atas, emasnya nggak keliatan sama sekali, mbok kasih kaca biar orang jadi bersemangat datang lagi, kalo mo liat suasana malam enaknya ke resto berputar itu, masih nggak yah ?

    yang di kuningan ya.. kayanya masih..

  6. eddyjp said: Lha mengecewakan, masa udah bayar mahal mahal sampe atas, emasnya nggak keliatan sama sekali, mbok kasih kaca biar orang jadi bersemangat datang lagi, kalo mo liat suasana malam enaknya ke resto berputar itu, masih nggak yah ?

    Sama dan sebanding, tinggal bangun gedung wayang wong (ngga apa kan seni Jawa, opera juga bukan asli Australia)…

  7. eddyjp said: betingkah biking ortunya yang nangis.

    Orang Amrik tidak bakal nangis karena anaknya bertingkah Ed.
    Kalau sudah tidak ada persesuaian, umur 18 dapat hadiah koper dan mobil butut (bila ada), buka pintu, anak tinggal landas. Tiada tangis mengiringi perpisahan, ha..ha..
    Mereka bisa kerja di Mc D, supermarket, restaurant, atau toko. Mereka tinggal bareng sama teman patungan sewa apartemen.

  8. hennymamaping said: Ton, antara lucu dan meringis baca komen kamu ini…lucu pengen ketawa tapi kok rasanya ngenes juga….anjing anteng kek sapi…hihihi…

    Ini nyata Hen.
    Kadang aku suka pengen tahu apa yang dipikir sama si anjing kalau melihat doi bengong melamun.
    Anjing di sini kebanyakan sudah lulus penataran untuk sopan santun dan bertindak beradab. Tentunya tidak biadab kalau tak perlu.

    Bonusnya, mereka tidur seranjang dengan empunya dan boleh menjilat muka (bukan pxntxt) boosnya,…….yuck….

  9. kumpulrebo said: Sama dan sebanding, tinggal bangun gedung wayang wong (ngga apa kan seni Jawa, opera juga bukan asli Australia)…

    Kebetulan Yan, sekarang disini lagi ada acara yang hot di tipi ..

  10. enkoos said: Sippp. Insya Allah tahun depan mbah. Dan kayaknya harus mampir jakarta, karena ultah MPID biasanya diadakan bulan Juni Juli.

    Ckckck bela belain mau hadir di acara MPID nih sudah di skedul setahun sebelonnya…he.he.he.

  11. enkoos said: Jadi ya balik lagi ke seberapa serius dan seberapa tinggi minat si anak.

    Setuju, abis disini kan nggak mau pusing, setidaknya udah punya sertipikat nggak bodoh bangets, kalo kasus kayak dikau kan keistimewaan aja Via..he.he.he.

  12. backyardplus544 said: Orang Amrik tidak bakal nangis karena anaknya bertingkah Ed.Kalau sudah tidak ada persesuaian, umur 18 dapat hadiah koper dan mobil butut (bila ada), buka pintu, anak tinggal landas. Tiada tangis mengiringi perpisahan, ha..ha..

    Wah sangat simple yah, kalo Indo sih disuruh kawin cepat cepat biar keluar dari rumah..ha.ha.ha.lha kalo jadi penjahat masa ortunya nggak nangis kah ?

  13. tintin1868 said: baiklah.. ku mikirmikir kalu makan mentah sih.. emang jarang kecuali restonya bagus.. tapi bukan jaminan kan ya..

    Ha.ha.ha..pernah punya pasien orang batak biking sashimi ala batak pake ikan segar kemudian pake jeruk asem dan bumbu, udahannya doi mencret berobat..ha.ha.ha..

  14. eddyjp said: Wah sangat simple yah, kalo Indo sih disuruh kawin cepat cepat biar keluar dari rumah..ha.ha.ha.lha kalo jadi penjahat masa ortunya nggak nangis kah ?

    pengecualian pasti ada Ed. Dimana mana yang namanya orangtua normal pasti nangis kalau anaknya jadi kriminal. Yang dimaksud Tony itu adalah keluarga di Amrik secara umum, yaitu mandiri karena udah dibiasakan dari kecil. Gak ada babysitter, nangis kalau gak penting ya dibiarin aja.

  15. eddyjp said: Ckckck bela belain mau hadir di acara MPID nih sudah di skedul setahun sebelonnya…he.he.he.

    empi bikin kecanduan. hihihi….
    Taun kemaren aku bela belain ke ultah MPID. Pontang panting dari Medan abis perjalanan nggembel keliling Jawa Sumatra. Nyampe Jakarta naik kendaraan oper2. Dari bis bandara, oper ojek bawa gembolan ransel muka belakang, nyampe tempat udah mau bubar. xixixixixixi…
    Tapi masih kebagian 2 jam lebih dikit deh kayaknya.

  16. eddyjp said: kalo jadi penjahat masa ortunya nggak nangis kah ?

    Dua kutub yang berbeda.
    Di TA kalau ada orang muda jadi penjahat, semua orang langsung bertanya "anaknya siapa sih?" Sepertinya ini tanggung jawab dari orang tua yang telah salah mendidik. Maka dari itu kalau terjadi orang tua akan nangis 50% untuk sang anak dan 50 % untuk diri sendiri karena malu.

    Kalau di sini tak sedahsyat itu. Paling banter 50 % atau ada discount oleh masayarakat yang merasa kasihan ke orang tuanya selama orang tua ini menyatakan penyesalannya kepada sang korban.

  17. backyardplus544 said: Kalau di sini tak sedahsyat itu. Paling banter 50 % atau ada discount oleh masayarakat yang merasa kasihan ke orang tuanya selama orang tua ini menyatakan penyesalannya kepada sang korban.

    Hm, jadi begitu yah, masuk akal juga sih, jadi sebaiknya cara ini diikuti untuk mengurangi tekanan publik…he.he.he.

  18. backyardplus544 said: Bonusnya, mereka tidur seranjang dengan empunya dan boleh menjilat muka (bukan pxntxt) boosnya,…….yuck….

    Eh, daku kira dikau ini elmunya udah selepel dengan Cesar Millan, Ton..ha.ha.ha..daku juga paling jijayyyyyy.

  19. backyardplus544 said: Bonusnya, mereka tidur seranjang dengan empunya dan boleh menjilat muka (bukan pxntxt) boosnya,…….yuck….

    Jadi kalo sekarang qt cerita ttg Sydney, Ed ud punya gambaran ya bgmn kota Sydney, tamannya dan masyarakatnya. Anak anak oz lebih mandiri gak tergantung sama ortunya, bisa makan sendiri, gak disuapin, gak digendong terus tapi lepas senang jalan sendiri apalagi dilepas pasti senang d. he he he. Org Sydney suka jalan, org Indo dikit dikit naik bus. Kadang kadang saya jalan kaki dr Kantor seberang Hilton hotel makan siang di China Town dekat tempat Ed nginap gak naik bus ha ha ha

  20. backyardplus544 said: Bonusnya, mereka tidur seranjang dengan empunya dan boleh menjilat muka (bukan pxntxt) boosnya,…….yuck….

    tambahan lagi orang Jakarta high maintenance org Sydney low maintenance. Jadi kalo mau cari menantu carilah orang oz semua serba bisa ha ha ha dan self serpis

  21. lbillstein said: aku sempet juga nonton OVJ ini ………ngakak abis…….

    He..he.he.kadang daku nonton kalo pas sempat, cuman sebel sama main jorok jorokan sampe jatuh orangnya, kan bahaya tuh, kasar banget, khas gurauan ala srimulat.

  22. angklung1 said: Org Sydney suka jalan, org Indo dikit dikit naik bus. Kadang kadang saya jalan kaki dr Kantor seberang Hilton hotel makan siang di China Town dekat tempat Ed nginap gak naik bus ha ha ha

    He..he.he..bukannya daku gak mau Winda, tapi tak koat..ha.ha.ha.kaki daku sakit semingguan abis pulang, mana kudu praktek berdiri jam jaman lagi.
    Musim dingin jalan sih masih oke, kalo musim panas…bisa meleduk ‘kali :))

  23. angklung1 said: tambahan lagi orang Jakarta high maintenance org Sydney low maintenance. Jadi kalo mau cari menantu carilah orang oz semua serba bisa ha ha ha dan self serpis

    Nah ini salahnya, kalo si Jakarta low maintenance, beli baju di mangdu lebih murah, makan juga lebih murah disini..ha.ha.ha.

  24. angklung1 said: Jadi kalo sekarang qt cerita ttg Sydney, Ed ud punya gambaran ya bgmn kota Sydney, tamannya dan masyarakatnya. Anak anak oz lebih mandiri gak tergantung sama ortunya, bisa makan sendiri, gak disuapin, gak digendong terus tapi lepas senang jalan sendiri apalagi dilepas pasti senang d.

    Setuju, salah orang sini sih pake jasa mbak sister, kerja hingga malam, anak nggak keurus jadinya. kalo disana kan teng go.

  25. angklung1 said: Jadi kalo sekarang qt cerita ttg Sydney, Ed ud punya gambaran ya bgmn kota Sydney, tamannya dan masyarakatnya. Anak anak oz lebih mandiri gak tergantung sama ortunya, bisa makan sendiri, gak disuapin, gak digendong terus tapi lepas senang jalan sendiri apalagi dilepas pasti senang d.

    belanja di mangdu cari palsuan elvi…..:))

  26. eddyjp said: Nah ini salahnya, kalo si Jakarta low maintenance, beli baju di mangdu lebih murah, makan juga lebih murah disini..ha.ha.ha.

    Tergantung mau hidup dimana dulu, Jakarta atau Sydney. Di situlah terjadi penyesuaian dalam penerapan hidup sehari hari.
    Yang penting sudah tahu kelebihan dan kekurangannya.

    Untuk anda, cari menantu yang terbaik tentunya dari Quntien, 10.000 % low maintenance.

  27. backyardplus544 said: Untuk anda, cari menantu yang terbaik tentunya dari Quntien, 10.000 % low maintenance.

    Setuju komen diatasnya, tapi cari menantu darimanapun juga sekarang ini resikonya sama saja, yang mata duitan banyak adanya..ha.ha.ha.

  28. lbillstein said: belanja di mangdu cari palsuan elvi…..:))

    hihihih tapi emang telor mata sapinya kliatannya enyaaakk :), setengah mateng plus taburan kucai?? eh pasti bukan kucai wkwkwkwk
    aku blm pernah ke negara bule2 gitu, kata yg sudah porsi makanannya emang gedenya ndak kira2, tanteku pernah pesen 1 sandwich dimakan bertiga saking gedenya rotinya…
    Ndak kebayang kalo disana dimakan 1org…

  29. pennygata said: hihihih tapi emang telor mata sapinya kliatannya enyaaakk :), setengah mateng plus taburan kucai?? eh pasti bukan kucai wkwkwkwkaku blm pernah ke negara bule2 gitu, kata yg sudah porsi makanannya emang gedenya ndak kira2, tanteku pernah pesen 1 sandwich dimakan bertiga saking gedenya rotinya…Ndak kebayang kalo disana dimakan 1org…

    Begitulah Tha, liat porsinya segede gajah udah jiper duluan, makanya kudu bawa bala bantuan..he.he.he

  30. pennygata said: hihihih tapi emang telor mata sapinya kliatannya enyaaakk :), setengah mateng plus taburan kucai?? eh pasti bukan kucai wkwkwkwkaku blm pernah ke negara bule2 gitu, kata yg sudah porsi makanannya emang gedenya ndak kira2, tanteku pernah pesen 1 sandwich dimakan bertiga saking gedenya rotinya…Ndak kebayang kalo disana dimakan 1org…

    Horrreeeey…….. akhirnya bisa log in :)))) , hoooo….. ceplok telor kurang kecap manis + iris cabe 😀

  31. edselmum said: Horrreeeey…….. akhirnya bisa log in :)))) , hoooo….. ceplok telor kurang kecap manis + iris cabe 😀

    Selamat Chien, akhirnya bisa masuk membaca dongengan petualangan bersama dikau :)), kapan balik kesini ?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s