Orang Kampung main ke Sydney (7)……..

Pagi pagi kami sudah siap ke rumah Linda, tapi katanya mending berangkatnya setelah rush hour aja, after 09.00, kata Yan tiketnya sedikit lebih murah setelah jam sibuk kereta sudah lewat.

Hani Switi berangkat duluan beli karcis, daku menyusul belakangan.

Biasalah jika boss berangkat duluan, anak buah seenaknya bersantai, akibatnya kami setengah berlari lari sesampai di Central Station mau naik lift menuju ke peron.

FYI peron alias tempat kereta ada diatas.

Pintu lift baru saja menutup, buru buru daku pencet dan terbuka, ada sepasang oma dan opa, mother in China sudah standby didalamnya, kami menyerbu masuk, lalu tunggu, tunggu dan tunggu.

Wah, kok lift soft banget jalannya, nyaris tak terasa sentakan sama sekali, daku terkagum kagum oleh kehebatan tehnologi lift tua itu, tapi lama lama daku jadi curiga dan melihat kearah

tombol, ternyata belon dipecent sama sekali..ha.ha.ha..

Herannya kedua nenek kakek itu sedari tadi anteng anteng aja.

Jadi yang eror tuh yang mudaan atau yang tuaan ???…ha.ha.ha..

Akibatnya sampai ke peron udah jam 9.30 lewat dikit, kereta baru saja meluncur berangkat.

Tapi dasar sedang hoki, tak berapa lama kemudian kereta dengan tujuan yang sama muncul lagi dibelakangnya.

Demikianlah, kami naik kereta api untuk pertama kalinya di Sydney..

Wah sungguh sungguh semut deh jalannya nggak ada goncangan sama sekali sejak beranjak dari statsiun, mengagumkan.



Nggak heran kenapa Linda betah naik kereta saban hari, memang sangat nyaman, setelah agak jauh dari setasiun barulah mulai terasa gujlukan gujlukan kecil dari rel tapi masih sangat oke dibanding dengan naik kereta di Indo.

Pemandangan silih berganti, daku memperhatikan setiap sungai yang dilewati oleh kereta, semakin jauh dari Stasiun semakin coklat airnya, mirip banget dengan air sungai kapuas…he.he.he.

Tiba tiba masuk SMS dari Linda " Ed,dikau ada di Glenfield ya ?" , daku terheran heran " Dikau kok bisa tau sih Linda ?" hebats amat ???

Ternyata rupanya doi meramal dari skedul si kereta, bener bener on time yah ..ha.ha.ha.

Sampai di statsiun pemberhentian Macquarie Fields daku melihat Linda sudah menunggu disana.

Teringat sehari sebelonnya Linda bersikukuh memberikan denah lengkap lokasinya, daku sama sekali nggak kuatir sebab daku selalu membawa GPS kemana mana alias

Haniswiti, nggak bakalan kesasar deh…ha..ha.ha.

Berjalan kaki kerumahnya yang tak jauh dari stasiun sungguh menyenangkan, suasananya masih asri mengingatkan daku akan lingkungan perumahan para londo di Quntien, sama persis, apalagi sampai kerumah Linda.



Rumah panggung persis di Quntien tempo dulu, rasanya dikau kudu main kesana untuk membuktikan apa kata daku deh Linda..ha..ha..ha..

So nggak heran jika daku merasa seperti di kampung sendiri..he.he.he.

Sayang kami hanya sebentar saja berekplorasi dikebon belakang dan didalam rumah sangat cozy dan nyaman berkat tangan dingin arsitek merangkap pimpinan proyek yang diimpor langsung dari Jerman alias Dieter sang gigi lenci .ha.ha.ha.



Kami segera berangkat ke Bule eh, Blue Mountains karena takut kesorean, maklum jam 5 udah gelap katanya.

Perjalanan masuk tol yang panjang dan lengang dan super lancar.

Inilah jalan Tol tanpa LOL seperti di Jakarta dimana kita sudah bayar malahan terjebak macet didalam tak berkutik.

Sampailah di Blue Mountain, begitu buka pintunya brrrrrrrr superdingin, daku langsung gemetaran deh.

Sialnya lagi, daku lupa membawa topi penghangat kepala, untung saja masih ada cadangan di tas Haniswiti biar rada kekecilan dan warnanya norak hijau dangdut daku memakainya daripada kedinginan terus…he.he.he.



Untung disitu ada toko suvernir yang sangat hangat, benar benar tempat yang sempurna untuk menghangatkan diri kerna penjaga toko juga sangat ramah.

Linda juga mengajarkan elmu menghangatkan tangan dengan memakai hand blower di wese, si koko dan dedek langsung mencoba..he.he.he.


Walau tertutup oleh kabut tebal dan cuaca yang berawan, pemandangan lembah Jamison Valley membentang luas di cakrawala sunguh memukau, luar biasa indahnya, di Quntien nggak ada tuh..ha.ha.ha


Saat Linda memperkenalkan the three sisters rock, dengan legenda kerna begitu cinta sang ayah kepada ke 3 anak gadisnya yang cakep cakep menjadi batu daripada dikawinin oleh manusia sakti buruk rupa.


Daku membayangkan bodi ke 3 gadis cantik itu, nampaknya yang tengah semok banget yah..ha.ha.h.a.

Ah begok amat si babe, kenapa nggak buru buru dikawinin sama orang lain dulu aja, kan beres, daku yakin sang Beast itu bukanlah model sopir truk di Indo yang menempelkan motto "Kutunggu jandamu" di bak belakangnya..ha.ha..ha

Udara benar benar windy dan super dingin, padahal cuman 5 derajat celcius aja, perasaan daku udah mau beku deh.

Sebenarnya daku masih betah disitu tapi kudu mengejar waktu untuk naik railway dan skyway.

Dieter mencari tempat parkir di gedung, cuaca diluaran sedang tak pasti antara hujan dan nggak, daku sempat mengusulkan untuk kemping di mobil didalam gedung parkir aja, it’s oke buat kami daripada kehujanan nanti.



Tapi Linda insist kami sekeluarga agar pernah merasakan makan gelaran alias piknik di udara terbuka di Blue Mountain.

Dan memang mengasikkan, walau cemas cemas dengan cuaca, wah semua persiapan menunya benar benar sempurna, roti sudah isi macam macam daging ham dan

coklat panas yang uenakkkkkk….he.he.he..

Cuman 1 masalah kecil saja, kursinya di beolin sama burung, so dikau liat kenapa daku makan sambil berdiri..he.he.he.

Itulah resikonya dekat dekat dengan mother of nature..ha.ha.ha..


Selesai makan kami pergi segera menuju ke lokasi Scenic Railway, daku masih nggak punya gambaran railway itu apa.

Sesampai disana koko mendadak sakit perut sehingga daku menemani doi cukup lama di wese, selesainya tau tau udah dibeliin tiket dan diajak naik railway sama Haniswiti.

Begitu masuk dan liat bentuk keretanya tempat duduknya nungging dan jalur curam banget,

daku langsung mengkeret dan "Nggak mau ah duduk didepan " mending duduk agak jauh dari si triplets yang sudah pasang posisi paling depan.



Daku sudah membayangkan betapa horornya naik kereta meluncur kebawah dengan

kecepatan yang supercepat dan katanya ini adalah the steepest incline Railway in the world, mana tempat duduknya agak nungging kebelakang gitu, seandainya daku terlontar keluar bisa gawats dong.


Tapi yang terjadi adalah, keretanya jalannya biasa saja, bahkan rada pelan sehingga kita tidak bisa merasakan jalurnya yang sangat curam, daku langsung menyesal kenapa duduk ditengah, tak bisa melihat langsung kebawah.

Inilah resikonya jadi penakut..ha.ha.ha..


Jalur naik, daku memilih duduk agak didepan, well walau promotsinya mengagumkan tapi dikau tak bisa merasakan dengan pasti dan mantap bahwa dikau telah menaiki jalur kereta paling curam didunia.

Selesainya dari sana, daku melihat ada kereta gantung yang menghubungkan 2 sisi jurang yang dalam, langsung kegirangan " Aku mau naik itu !!! ".

Ternyata itulah yang namanya Scenic Skyway..he.he.he.



Dan memang sangat mengasikkan naik Scenic Skyway, daku bisa melihat 360 derajat view pemandangan termasuk lantainya yang terbuat dari bahan yang bening tembus pandang, di Quntien nggak ada nih yang ginian..ha.ha.ha.


Mas bule yang menjalankan skyway ini sangat asik orangnya, doi bilang malam ini bakalan turun salju nih nampaknya,

Sayangnya sudah kesorean, "Last ride " kata mas Bule, nggak bisa naik ulang lagi.

Well, daku bisa mengatakan inilah pengalaman yang daku kasih rangking nomer 1 dalam kunjungan daku ke Aussie !

Pulangnya kami langsung menuju ke rumah Yan, diundang makan malam disana…

Wah, inilah pertama kalinya daku diundang makan di resto Dural yang terkenal dengan Chef Anna yang menurut surpey kepuasan konsumen selalu mendapat rating sangat memuaskan oleh ahli kuliner terkenal dari Sydney, Yan..he.he.he..



Inilah daptar menu spesial fine dining dari Chef Anna of Resto Dural :
Sayangnya, potogaper amatiran yang kelaperan sulit diandalkan untuk mengabadikan semua menu..he..he.he..

Starter : Mushroom Puffs.

Entree: Roasted Pumpkin and sweet potato soup

Smoked salmon with wasabi cream on papadoms, favorit daku, rasanya sangat unik.

Main: VealOsso Bucco with mashed potatoes yang dagingnya sangat lembut dan empuk, uenak tenan.
Dessert: soft centre belgium choc pudding, enak deh eskrimnya biking sendiri, daku nambah lagi…he.he.he.


Sangat menyenangkan bisa makan sembari ngobrol sembari di entertain permainan piano memukau oleh Kai Zen, anak bungsunya Yan dan Anna.


Selain seorang chef yang kemampuan improvisasinya mengagumkan, Anna juga jago dongeng dan punya selera humor yang sangat tinggi.


Yan menunjukkan bagian belakangnya yang curam kebawah dan penuh pepohonan yang selama ini daku coba bayangkan, sayang sudah malam daku tak bisa melihat dengan jelas.

Desain rumah Yan sangat unik dan hangat, berkat kerja keras dalam arti sesungguhnya dari Yan dan Anna, mulai dari desain sampai pembangunan terjun tangan sendiri.

Pertanyaan yang daku ingin cari tahukan jawabannya "An, beneran pasang keramik lantainya sendiri nih ?"

"Oh, itu gampang, kayak biking adoanan kue aja, nat ( jarak diantara keramik ) diukur pake tangan aja ".

What ?..ha.ha.ha..nampaknya seni masak memasak di taraf yang tinggi bisa digunakan untuk membangun rumah, interersting maning !

Sampai lupa waktu hingga larut malam dan diantar oleh Yan, pembalap Dural yang keahliannya tikung menikung mendebarkan jantung…

Menurut daku, orang Indo yang tinggal di Sydney kemampuan menyetirnya meningkat dengan sangat tajam..he.he.he.

Well, demikianlah hari yang sangat menyenangkan ini berakhir dengan sangat sempurna.

Advertisements

56 responses to “Orang Kampung main ke Sydney (7)……..

  1. backyardplus544 said: Tergantung tempatnya di mana. Di situlah perilaku manusia yang menentukan. Pada umumnya ada aturan yang jelas sekali. Selama dipatuhi, selebihnya tergantung nasib. Problemnya seperti disebutkan Eddy dimana beda jalan di kiri dan di kanan. Ini kalau lupa sangat mengundang bahaya.

    Setir kiri kanan ini memang suka biking kagok ya, secara itu sudah kebiasaan tetahunan.

  2. backyardplus544 said: Tergantung tempatnya di mana. Di situlah perilaku manusia yang menentukan. Pada umumnya ada aturan yang jelas sekali. Selama dipatuhi, selebihnya tergantung nasib. Problemnya seperti disebutkan Eddy dimana beda jalan di kiri dan di kanan. Ini kalau lupa sangat mengundang bahaya.

    walah rugi jadi penakut.. eh itu oma opa di lift bikin ngakak.. ternyata blom diceklik tombolnya, pantes anteng2 saja..
    kog ga ada foto chef anna? minimini ya isinya.. anak2 minum sampanye?

  3. tintin1868 said: walah rugi jadi penakut..

    Ha..ha.ha..dalam pikiran daku kereta akan meluncur dari ketinggian ribuan kaki kebawah dalam waktu sekian detik, ya seremlah.
    Kalo naik kereta gantung diatas ketinggian segitu daku malah ketagihan..ha.ha.ha

  4. tintin1868 said: eh itu oma opa di lift bikin ngakak.. ternyata blom diceklik tombolnya, pantes anteng2 saja..

    Ha..ha.ha..herannya mereka berdua senyum senyum saja, kalo daku nggak masuk kedalam bisa bisa mereka disitu terus sampe besok pagi..ha.ha.ha

  5. tintin1868 said: kog ga ada foto chef anna? minimini ya isinya.. anak2 minum sampanye?

    Ada tuh Chef Anna pake kaos putih di foto terakhir, daku kan menghormati privacy orang lain, iya tuh anak anak minum sempen, babenya malah nggak ha.ha.ha..

  6. backyardplus544 said: Entah kalau sekarang semua sudah karatan dan diputuskan dipantek mati.

    Dapat inpo dari prens yang saban hari naik kereta Jakarta Bekasi :
    semua kereta jarak jauh umum nya kursi kereta bisa di bolak balik untuk
    sandaran punggung.
    kecuali KRL (kereta listrik) kursinya kaya di mikrolet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s