My fave : Tsai Chin…

Category: Music
Genre: Pop
Artist: Tsai Chin

Tumbuh besar diantara suasana Quntien yang tak lepas dari lagu lagu mandarin seperti pasti terdengar setiap hari.

Emak daku memang pecinta lagu mandarin aseli, karena doi sekolah mandarin sejak kecil hingga SMA.

Sedang babe daku senang lagu ala bule karena doi bangga dengan pendidikan ala belanda yang dicicipinya hingga setingkat SMP jaman itu.

Bukan hanya denger lagu mandarin top yang diputar emak lewat piringan hitam, di setiap rumah dan gang yang mayoritas ditinggali orang cina Quntien tak juga membuat daku menjadi menyukai lagu mandarin.
Malahan daku lebih suka lagu Melayu Deli, Koes Ploes, Beatles, Bee Gees.

So sampai daku bertumbuh besar hingga SMA, tak satupun lagu mandarin yang daku hapal, agak mengherankan bukan ?

Daku menganggap lagu pop mandarin Teresa Teng itu kampungan dan norak tak bermutu dibanding lagu klasik ala Beethoven, Bach, Mozart dan Tchaikovsky :).

Hingga suatu hari jaman daku baru mulai kuliah, sedang jalan jalan di lantai 4 Gajah Mada Plaza melewati sebuah toko kaset yang sedang memutar lagu mandarin yang dinyanyikan oleh female singer.

Daku mendadak terpaku dan terpesona, dalam sekejap daku masuk ke toko itu dan membeli kasetnya 2 album buat emak daku, rencananya.

Well,entah kenapa daku jarang suka dengan suara penyanyi perempuan apalagi mandarin, tapi sejak itulah, pandangan daku tentang lagu mandarin norak pelan pelan berubah.

Ternyata banyak keindahan lagunya yang terlewatkan oleh daku selama ini.

Teman SMA daku memandang daku dengan heran sewaktu mendengar daku menyetel lagu mandarin di mobil “Eddy, nggak salah nih, dikau sakit demam ? atau otakmu sedang konslet ?” hi..hi..hi..

Tsai Chin, nama penyanyi mandarin favorit daku, suaranya melankolis mendayu dayu, hanya saja lagunya kadang terasa sangat sendu dan sedih, itu yang membuat daku kadang nggak betah lama lama mendengarkan lagunya.

Belakangan, daku baru menemukan sebab kenapa doi selalu membawakan lagu sendu….

Biduanita Taiwan, Tsai Chin

Biduanita terkenal asal Taiwan, Tsai Chin atau Irene Chou yang terkenal dengan lagunya yang berjudul “The Forgotten Time” atau “Waktu Terlupakan”, sampai saat ini terus membekas di hati para pecinta tembang lagu Tionghoa di seluruh dunia. Bahkan, Tsai Chin disebut-sebut pula sebagai “penyanyi evergreen” di dunia tarik suara.

Suara khas Tsai Chin selalu menimbulkan nuansa romantis klasik dan sedikit sendu.
Lagu yang dinyanyikan Tsai Chin sering diibaratkan seperti arak, yakni semakin lama disimpan, semakin harum.

Tsai Chin yang leluhurnya berasal dari Provinsi Hubei, Tiongkok bagian tengah, dilahirkan di Taipei pada tahun 1957. Ibunya adalah redaktur di sebuah kantor majalah, sedangkan ayahnya adalah seorang nakhoda kapal yang sering berkelana di samudera luas nan jauh disana.

Setiap kali merindukan sang ayah yang sedang berkelana, Tsai Chin dan adik laki-lakinya selalu berdiri di pesisir pantai dan melepas pandang ke lautan lepas.

Tsai Chin mengatakan, sejak kecil ia sudah akrab dengan perasaan sedih karena perpisahan dan perasaan bahagia saat berkumpul kembali bersama keluarga.
Itulah sebabnya mengapa banyak lagunya yang bernuansa melankolis.

Walaupun semasa kuliah Tsai Chin mengambil jurusan seni rupa, namun hobi nyanyinya justru yang menghantar dirinya menuju kesuksesan. Pada akhir tahun 1970-an, Tsai Chin naik panggung sebagai penyanyi lagu-lagu balada rakyat.

Pada awal meniti karir sebagai penyanyi, wajah Tsai Chin dinilai biasa-biasa saja, namun suara khasnya yang rendah dan lembut itu sangat menarik perhatian khalayak.

Tahun 1979, Tsai Chin melangkah ke jenjang ketenaran melalui lagu berjudul “Just Like Your Tenderness” atau “Justru Seperti Kelembutanmu” karya Liang Hongzhi, penata musik terkemuka Taiwan.

Sepenggal lagu itu berbunyi begini, “Suatu hari di suatu bulan di suatu tahun, bagaikan muka yang terkoyak. Susah membuka mulut menyampaikan kata pamit.
Biarlah segala sesuatu berjalan jauh ke sana, sampai perasaan itu diam-diam datang dan perlahan-lahan sirna.”

“Dari tahun ke tahun, saya tidak pernah berhenti merindukan engkau,merindukan masa lalu. Mudah-mudahan angin laut bertiup kembali dengan ombak lautan yang sama lembutnya dengan engkau.”

20 tahun kemudian, saat Liang Hongzhi meninggal dunia, Tsai Chin pun tenggelam dalam duka. Dan bagaikan air laut, hidupnya mengalami pasang surut.

Walaupun pernah menjalani satu-satunya kehidupan pernikahan selama sepuluh tahun, Tsai Chin tidak pernah benar-benar menjalani hidup seperti pasangan suami istri pada umumnya.

Meski tinggal di bawah satu atap, keduanya selalu berdiam di kamarnya masing-masing. Sampai suatu hari, pasangan ini memutuskan bercerai setelah sang suami mengaku telah memiliki wanita idaman lain.

Bagi Tsai Chin, pengakuan suaminya itu menusuk dirinya sampai ke relung hati. Bertahun-tahun kemudian, Tsai Chin baru dapat pulih kembali dari keputus-asaannya. Suatu hari saat melakukan pemeriksaan kesehatan, Tsai Chin lagi-lagi mendapatkan kabar buruk. Hasil pemeriksaan medisnya mengungkapkan bahwa ada tumor dalam tubuhnya.

Merasa hidupnya sudah di ujung tanduk, Tsai Chin langsung menulis surat wasiat. Walaupun di kemudian hari, dokter mendiagnosa tumor tersebut sebagai tumor jinak, namun hatinya sudah sangat terpukul. Tahun 2007 saat ia mendengar kabar meninggalnya mantan suaminya, Tsai Chin meratap sendirian di rumahnya.

Dalam sebuah surat terbuka, ia mengatakan, “Segala sesuatu yang terjadi antara saya dan dia di masa lalu, akan ku cicipi sendiri dan akan kupandang sebagai rahasia hidup yang tentunya akan sirna setelah ia meninggal dunia.”

Setelah mengalami begitu banyak kejadian pahit dan manis dalam hidup, Tsai Chin dengan jujur mengungkapkan bahwa sekarang ia baru dapat memahami dan menjiwai nuansa yang terkandung dalam lagu “Justru Seperti Kelembutanmu.”

“Sebenarnya lagu itu bukan lagu sedih, tapi lagu itu hanya mengekspresikan rasa kesepian yang dialami seseorang yang sedang berada di sebuah pulau terpencil tanpa orang lain. Yang menghibur hatinya hanyalah deruan ombak lautan,” ujar Tsai Chin.

Selama 20 tahun meniti karir sebagai penyanyi, Tsai Chin telah meluncurkan 40 lebih album dan memperoleh banyak penghargaan yang mencakup banyak bidang, seperti novel, film, pengasuh acara, dan perancangan busana.

Mengenai keaktifannya di panggung musik, Tsai Chin mengatakan, “Saya merasa sangat beruntung, karena saya adalah orang yang tegar dan bisa toleransi kepada banyak hal, Karena itulah saya bisa bertahan di dunia musik sampai sekarang.”

Salah satu lagu yang sering dibawakan Tsai Chin adalah “Tingyuan Shenshen”, atau “Pekarangan Yang Dalam.” Lagu ini serta beberapa lagu lainnya selalu mengingatkan kaum lanjut usia yang meninggalkan Tiongkok Daratan dan menetap di Taiwan.

Bahkan pernah ada seorang berusia lanjut yang bertanya kepada Tsai Chin sembari memegang tangannya: “Kamu begitu muda, tapi mengapa kamu bisa menyanyikan begitu banyak lagu lama?”

Bagi Tsai Chin, lagu-lagu lama itu mengandung perasaan yang sederhana, namun bermakna dalam dan mengharukan.

Jauh di dalam lubuk hati Tsai Chin, tersimpan sebuah impian, yakni menggelar konser tunggal di daratan. Pada Festival Musim Semi atau Tahun Baru Imlek tahun 2001, atas undangan CCTV (Stasion Televisi Pusat Tiongkok), Tsai Chin ikut menyumbang acara dalam pertunjukan kesenian perayaan Tahun Baru Imlek.

Advertisements

54 responses to “My fave : Tsai Chin…

  1. osavara said: oom eddy, minta terjemahin yg judulnya ‘your eyes’ dong ke bahasa indonesia, kayaknya cocok jadi latarbelakang tulisan saya…

    lirik dan nadanya bikin orang yg lagi patah hati tambah ehm…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s