Beda Kuah Ayam Samgyetang dan Koboktang…

Until the last minute di airport, daku akhirnya membatalkan diri berangkat  jalan jalan ke Seoul Desember 2012 yang lalu, alasannya ? You need a reason  ?
Oke, terlalu dingin disana..ha.ha.ha…minus 20 Man, mana tahan!

Maka sebagai pelipur lara daku diantar oleh Haniswiti pergi ke sebuah resto korea di kawasan CBD di Sudirman.

Daku kenal resto ini ascot alias asal comot karena iklannya sering muncul di channel KBS alias Korea Broadcasting Service, salah satu channel tipi kabel langganan daku.Tujuan sepesial kesana di siang yang gerah itu, ingin mencicipi semangkok Samgyetang.

Menurut sangibul hikayat, jikalau dikau main ke Seoul dan belon mencicipi Samgyetang ini, artinya dikau belon main ke Korea.

Konon kabar, makanan ini adalah makan spesial yang disajikan bagi permaisuri raja Ijon yang sakit di jaman dinasti Joseon.

Makanya Samgyetang ini paling terkenal adalah yang berada disekitar wisata turis Istana Raja Gyeongbukgung Palace.

Seminggu lalu daku sudah menelpon resto itu, menanyakan apakah mereka punya menu sepesial ini ?

Sungguh beruntung, operator yang berbicara dalam bahasa indonesia dengan aksen totok korea memberikan kabar “Oh ada bapak, tapi harus pesan dulu 2 jam sebelumnya, karena ayam harus dimasak agak lama dan disajikan panas”

Hm, air liur sudah mengalir membayangkannya, Mashisoyo, enaks.

Well, dalam pikiran  daku, asalkan daku sudah makan Samgyetang artinya daku sudah ke Seoul bukan ? ha..ha.ha..

So demikianlah daku sampe kesana, restonya sepi sepi membuat hati jadi ragu.
Pelayannya menerangkan bahwa restonya ramai weekdays dan sepi pas weekendnya.

Oh begitu ?

No problemo, tujuan daku cuman menunaikan tugas mulia mencicipi Samgyetang.

Sambil menunggu kami membuka daftar menu yang terisi poto makanan yang  sangat menggoda, tapi harganya membuat jantung daku berdebar debar, maklum daku biasa makan di warung soto…ha.ha.ha..

Liat punya liat, cari punya cari, eh tak ada lho menu Samgyetang disitu, jadi orderan daku termasuk orderan istimewa dan hanya orang Korea saja yang biasa minta Samgyetang, mantap.

Tak lama kemudian…..
Datanglah apa yang daku tunggu tunggu.
Tralala, ini dia inSAM-yeonGYE – TANG /ginseng -anak ayam – kuah alias Ayam Kuah Ginseng ini yang daku impi impikan siang dan malam..he.he.he.

Bedanya dengan Tim ayam kuah ginseng yang biasa dibuat oleh emak daku, didalam perut ayam Samgyetang diisi dengan nasi ketan, penasaran bukan ?
So dikau bisa bayangkan istimewanya bukan ?..he.he.he.

Image milik sini

Tak sabar lagi, daku langsung menghirup kuahnya..
Onde mande cusdei, kuahnya tawar !!! Oh my my..

Pantasan saja si Dedek yang sudah mencicipi Samgyetang paling terkenal di Seoul bilang “kuahnya nggak ada rasa Pa, ayamnya lumayan enak karena bisa ditotol  pake bumbu garam lada”.

Well, walau daku ini penggemar Ayam Goreng Garam, yang juga ada cocolan garamnya, cocolan garam Samgyetang ini rada biking daku enek deh.

Mungkin kerna yang satunya  ayam goreng kering , satunya ayam rebus.

Melihat penampilannya banyak sekali taburan batang bawang hijau diatas kuah Samgyetang, daku tiba tiba teringat “Ma, masih lebih enak kuah bakmi ayam dekat kost daku jaman kuliah dulu deh ”

Demikianlah temans, daku sudah menyelesaikan kaul yang nyaris sempurna makan Samgyetang, kecuali rasanya.

Well, ada sedikit kecelakan sih, daku makan menggunakan mangkok stainless steel yang ternyata buat tempat sisa tulang.

Pantesan aja mbak pelayannya menatap daku dengan tatapan agak gimanah gitu….ha.ha.ha..

Apa boleh buat prens, orang kampung seperti daku nggak biasa menggunakan mangkok secakep itu buat tempat tulang tulangan sisa…ha.ha.ha.

Beberapa minggu kemudian…
Usai dari gereja daku mengajak Haniswiti dan sitriplets untuk makan bakmi ayam yang daku yang daku puja puji diatas.

Sudah terbayang betapa indahnya makan disana….
Semangkok bakmie ayam dengan potongan slice daging ayam sesuai pilihan daku, which is dada mentok yang putih mulus tanpa kulit, PLUS semangkok kuah beraroma wangi dan kental hasil ekstraksi sari berekor ekor ayam terendam didalam dandang diatas kompor yang terus menerus menyala..

Dan yang tak kalah pentingnya lagi, harga 5 mangkok bakmi ayam plus kuahnya yang maknyus itu setara harganya dengan semangkok  Samgyetang yang tawar kuahnya..he..he.he.

Tumben tumbenan, kali ini Haniswiti kepengen makan pangsit saja.
So 1 mangkok bakmi ekstra buat bagi bedua anak lelaki yang lagi kuat kuatnya makan.

Daku paling suka dengan  rumah makan yang tempat masak masaknya berada didepan.
Sambil menunggu sajian datang kita melihat aksi para ahli masak  yang  mengagumkan itu menyiapkan sajian.

Kebetulan daku duduk pada posisi yang sangat strategis, menghadap keluar.

Dengan begitu daku  bisa melihat baik dapur masak maupun meja kasir merangkap penerima tamu dan orderan berada saling bersebrangan.

Selalu menarik mengobservasi begimana tukang masak beraksi dan begimana tukang tagih bon menjalankan tugasnya.

Selagi asik ngobrol sambil menunggu suguhan datang, daku tiba tiba menangkap ada sesuatu yang tidak biasa.

Sang kasir berjalan menyebrang ke tempat masak masakan  sembari membawa nampan yang berisi 5 buah pangsit mentah gempal yang menggemaskan.
Hm Mashisoyo. enaks.

Rupanya sang kasir yang membuat pangsit itu fresh, hebats.

Eits nanti dulu ???!!!

Bukannya tugas kasir itu cuman berurusan dengan duwit, artinya pegang duit yang sudah jelas tak bisa dipertanyakan kebersihannya.

Kembali,
Selesai mengantar pangsit buat direbus oleh tukang masak, doi balik lagi ke tempatnya, lalu mengambil sebatang rokok sisa yang berada di pinggir meja kasir dan mengisapnya.Eh, ini berarti sebelon doi membuat pangsit gempal tangannya yang bekas pegang duits, juga bekas pegang rokok yang rupanya dibiarkan tetap menyala.

“Ma, pangsitnya dibatalin aja ya, tuh bla bla bla….” daku galau.
“Nggak pa pa lah Pa, toh direbus lagi pangistnya, kumannya isded semua”

Haniswiti duduk disebrang daku, yang artinya membelakangi meja kasir dari jauh alias tidak menyaksikan kejadian yang mengharukan itu..he.he.he

“Nggak, batalin aja,” daku insist, “Udahlah Pa, ntar ribut sama orangnya” Haniswiti.

Daku melihat kearah meja kasir lagi, eh sang kasir mengeluarkan selembar saputangan kemudian mengelap mulut muka dan yu don want to know apa bisa dilakukan dengan saputangan.

Waks, it’s untolerable !Tanpa bertanya lagi, daku langsung ke tempat masak masakan “Pak, pangsitnya nggak jadi”

“Wah pangsitnya udah direbus” koki dengan muka tak sedap.

“Lha yang biking pangsit, tangannya bekas pegang macam macam” daku sambil memandang ke arah kasir yang masih nggak ngerti apa apa.

Tak lama kemudian, pesanan bakmi datang lengkap.
“Pangsitnya nggak jadi pak ? sudah terlanjur dibuat lho ” pelayan dengan nada menghimbau.

” Nggak jadi Mas.  kalo sudah terlanjur bikin nanti saya bayar, tapi jangan disuguhkan kesini, untuk mas aja. ” daku.

Selesai makan, daku ke kasir membayar, kabar baiknya pangsit tak dihitung dan kasir juga tak berkomentar apapun juga tentang insiden itu.

Dan untuk dikau sekalian ketahui, sebelonnya sang kasir baru saja keluar dari wese yang berada di ujung ruangan sana.

Itulah dongeng tentang Samgyetang dan Koboktang alias tangan bekas kobok kobok..ha.ha.ha.

Advertisements

19 responses to “Beda Kuah Ayam Samgyetang dan Koboktang…

  1. hahaha kacau minah.. maksud hati pengen samgyetang biar kerasa udah ke korea, eeaahh tawar aja, gantinya ke bakmi langganan yang bikin gimana gitu..
    makan itu ga usah dilihat, makan aja.. jadi sekarang ga langganan lagi disitu? kalu terangterangan dapurnya kaya gitu, tinggal bilang kasir ya kasir tukang masak ya tukang masak dan kalu bisa jangan sambil cebokan plus rokokan..
    moral of the story, jangan ke dapurnya samgyetang.. lebih heboh kali ya..

    *ngakak lagi..

  2. He..he.he..Tin, kalo dapurnya si Samgyetang ada didepan pintu masuk juga, persisnya disampingnya, super bersih dan profesional sesuai dengan harganya..ha.ha.ha..

    • Kekekek makanya daku langsung minta dibatalkan saja Via..he.he.he.joroks bangets sih,disini kebersihan jarang diperhatikan dengan baik dalam menyajikan makanan.

  3. pernah loh ku ke dapur resto terkenal.. kalu ada tamu mereka kelihatan pro, tapi kalu ga ada tamu kecoa di salad lewatpun cuek aja.. kebersihan blom jadi kebiasaan kali dimari..
    kapan hari m.niez bahas soal tukang mie, yang ternyata pipis dulu di sebelah, dan ga cuci tangan langsung ambil semua pake tangannya itu.. hiiiiiiiiiiihhhh..

    • Wakakakak ini masih mending tukang masaknya sih keliatan bersih, pake sarung tangan, tapi nggak tau bekas buat pegang apa aja..he.he.e.

  4. Mungkin yang bikin pangsitnya enak karena bercampur sama rasa dan aroma macem-macem itu, Pak…. Jangan-jangan bakmi, bakso dan yang lainnya juga sama…. xixixixiii

  5. Waktu aku di Seoul (bacanya mirip sool) aku disuguhi sashimi telur ikan salem. Katanya itu yang paling istimewa. Waktu ku makan rasanya yeaks! Persis levertraan. Gak diterusin deh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s