Surat Oma Sakit ….

Biasanya orang yang masih sekolah atau bekerja membutuhkan Surat Keterangan Sakit untuk membuktikan dirinya tidak bisa hadir disebabkan  karena sedang sakit beneran atau pura pura sakit..he.he.he.

Semua sudah taulah isinya Surat Keterangan Sakit, sangat standar menyatakan seseorang sakit oleh karena itu diberikan Istirahat sekian hari terhitung dari tanggal sekian ke tanggal sekian.

Ternyata, surat sakit seperti ini punya banyak kekurangannya sebab tidak bisa dipakai untuk kejadian luar bisa seperti ini…here comes the setori 🙂

Seiring dengan berjalannya emansipasi banyak istri muda, eh maksud daku, istri yang masih muda usia untuk turut membina karier diluar rumah maka dibutuhkan tenaga bantuan tambahan untuk menjaga anak disaat doi berjuang demi membeli susu untuk anak dan Ipad 5 buat suaminya…he.he.he..

Selain itu bekerja diluar juga bisa menjadi saat saat yang indah untuk having mee time terbebas dari rutinitas mengurus anak yang suka tak suka diakui oleh sebagian emak, sangat mencapekkan dan membosankan ditempelin anak sepanjang hari sepanjang tahun tanpa cuti.

Itu pula yang dikeluhkan oleh mantan asisten daku baru baru ini berhenti bekerja karena harus mengurus sendiri 2 anaknya yang batita alias bawah tiga tahun..

Siapa yang paling cocok untuk dipercaya menjaga anak ? Baby sitter ? Kawatir ntar kena child abuse deh, lagian sekarang ini susah cari mbak buat jaga anak.

Paling gampang dan available ya minta tolong orang dirumah, lebih terpercaya.

Makanya nggak heran sekarang ini banyak emak tua alias mertua mendapat kehormatan  dipanggil kembali ke dunia persilatan untuk menjaga cucunya.

Sayangnya, antara niat baik dan kesanggupan adalah 2 hal yang berbeda, sebagian dari oma berumuran sekitaran 50-60 tahun kepayahan membantu menjaga sang cucu, apalagi yang berumur diatas itu.

Well, pepatahan Tua Tua Keladi, Makin Tua Makin Jadi kurang pas untuk menggambarkan situasi, melainkan Tua Tua Mertua, Makin Tua Makin Memble ..ha.ha.ha..

So nggak heran jika kemudian mereka nongol di praktek daku dengan keluhan sakit pinggang atau lutut yang cukup devastating.

Nah, biasa pertanyaan klasik yang selalu ditanyakan oleh para oma ini adalah..

“Doc, pantangannya apa nih ?”

Kebanyakan selalu mengharapkan seabrekan larangan termasuk tidak boleh makan beton .he.he.he..

Herannya pada tidak siap dengan larangan seperti  “Nggak boleh gendong cucu, Buk !”
Maka balasan pantunnya adalah “Abis kalo nangis nggak digendong gimana Doc ?” atau “Lha siang hari dirumah cuman ada saya, kalo bukan saya siapa lagi Doc ?”

Wadohhh ????

Cry-baby

Poto kepunyaan sini 

Kesian memang, tapi sebenarnya biar digendong seribu kali sehari, nantinya sang cucu tidak akan ingat siapa yang menggendongnya disaat masih balita.

Tak Percaya ??

Suatu hari seorang tante muncul di ruang praktek daku sembari memperkenalkan diri “Masih ingat nggak Ed, kamu waktu masih balita dulu saya yang gendong gendong dan sayang sayang ”

Oh My Gudness, sungguh daku nggak ingat sama sekali, tapi daripada menyinggung perasaan si tante yang sedang berbunga bunga, maka daku iyakan saja deh kekekek.
Mana mungkin daku bilang lupa dengan alasan  nan lebay”Maaf ya, kemaren kepala daku abis kejatuhan buah duren jadi amnesia” he..he.he..

Toh nggak salah salahnya membiarkan orang lain berbahagia daripada nanti muncul komen “Ala belagu amat itu dukun, pake acara pura pura nggak ingat siapa yang berjasa merawatnya siang dan malam sehingga sekarang menjadi orang yang berguna bagi nusa dan bangsa” terdengar 🙂

Oh ya, seorang prens daku mengatakan, “Saat diingatkan tetap tidak ingat, mengapa tidak minta digendong seperti saat kecil ? ini adalah cara untuk mengingat kembali dengan metode ANCHORING”

Well prens, kalo daku digendong ulang sama mantan babysitter, yang bakalan terjadi adalah HANCORING….ha.ha.ha…

Demikianlah, kisah inspiratif ini selalu daku ulang untuk mengobati rasa bersalah  jika tak menggendong cucu tercintanya yang selalu dikonotasikan sebagai seorang oma yang gagal.

Sebagian oma menjadi mantap hatinya untuk menjaga kesehatannya sendiri dimasa tuanya nanti daripada gendong cucu sampe tulang belakang rasa mau patah, tak sepadan deh..he.he.he.

“Tapi gimana mau ngasih tau mantu saya Doc, ntar kirain saya tak mau merawat cucu”
Lalu daku tawarkan  Surat Ijin Tidak Boleh Gendong Cucu untuk diberikan kepada anak dan mantunya.

Well, supaya tidak terlalu menyolok daku menuliskannya dalam bentuk Daftar Larangan yang harus dipantang, berbunyi..
*** Tidak boleh membawa beban berat seperti belanjaan di pasar bla bla bla, termasuk TIDAK BOLEH GENDONG CUCU….kekekekek

Baru kemaren daku menuliskan secarik list larangan ini untuk seorang Mertua yang khusus datang berobat dari Quntien , untuk disampaikan kepada Mantunya sekembalinya disana.

Di waktu yang hampir bersamaan, ada seorang emak berumur 60-an tetap tak berani menyampaikan hal seperti ini kepada anak mantunya karena sang emak takut nantinya ada salah sangka dirinya menghindari “tugas mulia” yang diberikan kepadanya.he.he.he.

So terpaksalah daku menuliskan skenario dan mensutradarai sebuah fragmen drama untuk menolong sang oma, dengan cara meminta doi untuk mengajak menantunya.

Di kunjungan berikutnya datanglah sang emak bersama mantu dan cucunya.
Setelah periksa-suntik-kasih obat tibalah saat untuk ber live drama..
“Bu, ingat yah nggak boleh gendong cucu yah, ntar sakit pinggangnya nggak sembuh sembuh walau sudah disuntik ” daku ke arah si ibu.
“Aduh gimana yah Doc, masa sih nggak boleh gendong cucu kan kesian ” si emak dengan muka memelas sembari melirik ke arah menantu yang duduk disebelahnya.

“Wah ini kebetulan, menantunya ikut yah, nah, si emak ini udah berkali kali dibilangin nggak boleh gendong cucu tapi bandel nih ” daku sembari menatap manis ke menantunya.
“Oh gitu yah Doc” mantu.
Selesai fragmen drama.

Kunjungan berikutnya..
“Gimana Buk, berhasil ?” daku.
“Berhasil Doc, kemaren mantu ngadu dengan anak lelaki saya kalo dokter melarang gendong cucu sejak itu nggak dikasih lagi ” si emak dengan muka berseri seri….ha.ha.ha..

Suatu kali ada seorang emak muda beranak 3 kinyis kinyis dengan rematik lutut yang cukup berat..
Seperti biasa daku melarang gendong anak.
“Wah susah Doc, mertua saya sudah sebulan ini tak dirumah, nggak ada yang bantu”
Kesian juga yah….
“Hm, gitu yah, gini aja deh Buk, coba cari mertua yang banyak deh, panggil aja semua orang mertua asalkan mau bantu dikau jaga anak”…ha.ha.ha…

Emang lebih asik manggil sembarang orang mertua daripada manggil seseorang babysitter, bedanya banyak Bow…
Mertua jaga anak itu kan gratis bahkan nombok, sedangkan Babysitter kudu dibayar mahal..ha.ha.ha.

Advertisements

10 responses to “Surat Oma Sakit ….

    • Rata rata oma oma disini nggak kuat dengerin rengekan dan tangisan anak sedangkan doi harus mengerjakan pekerjaan rumah tangga pula. Beda kultur sama bule Via 🙂

      • iya tahu beda kultur, tapi apa salahnya dicoba.
        Ibuku dulu juga begitu, karena aku gak begitu suka kalau anakku sering digendong. Ntar jadi kebiasaan. Rewel dikit gendong, bisa manja dia. Aku yang nglarang.
        Bisa tuh.

      • Setujum tapi untuk meyakinkan bahwa tidak menggendong cucu tidak berarti nanti cucunya gak dekat dan tetap sayang dengan omanya ya susah sebenarnya Via 🙂

    • Daku mendoakan semoga setiap cucu dikau yang lahir tersedia babysitter 2 orang khusus untuk merawatnya, sehingga dikau terbebas dari tugas mulia itu..ha.ha.ha.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s