It’s better be Good or I’d rather Starve to Death than Eating this..

Seorang emak muda membawa anak lelaki umur 2 tahunnya “Dok, anak daku pubnya susah dan keras seperti tai kambing ”
“Udah kasih makan sayur dan buah Buk ?” Daku, klise.
“Sayur gak doyan , buah pilih pilih banget Dok, kasih apel ogah, dibilang “acem” ,kasih wortel ogah, dibilang “wau”

????

“Wah, anak ibu berbakat jadi Chef, turunan siapa nih ceweret makannya ?”
“Kok tau Dok, bapaknya, kebetulan suami Ai seorang Koki, Dok”

Aha !..ha.ha.ha..

Ada diantara dikau punya anak kayak gitu, pilih pilih bangets makannya ?
Dan kalo kebetulan dikau sebagai babenya yang kebetulan makannya susah lalu dipersalahkan sebagai biang keladi kasih contoh jeleks buat anak ?

Kalimatnya panjang bangets ? Bukan, ini Curhat…ha.ha.ha..

Dan jikalau dikau berdalih itu kan bawaan orok, maka dikau tetap salah karena telah menurunkan gen “jelek”  ini…ha.ha.ha..

Yang jelas alasan terakhir ini lebih asik, karena dalam kenyataannya, didunia ini selain ada lidah tak bertulang dan lidah buaya, ada lagi jenis golongan yang lidah Taster dan Non Taster 🙂

Sejak masih kecil daku sering dipanggil emak untuk ngetes rasa makanan yang sedang dimasaknya, kata emak itu adalah langkah pertama belajar masak, harus tau rasanya dulu.

Semasa mudanya, emak daku selalu telaten memasak untuk pembantu baru selama beberapa bulan, sampai doi tau rasa masakan yang pas nya seperti apa barulah doi disuruh masak.

Tapi ya gitu, tak semudah itu kan, seperti dalam dongeng silat, seorang guru sakti jika ingin angkat murid akan liat dulu apakah sang calon punya tulang pendekar nggak.
Percuma buang buang waktu saja, dan biking cape hati kalo udah diajarin gak bisa bisa.

Coba dikau simak lagi komentar Nona jagoan masak yang tinggal di Paris van Java ( yang bilang sama suaminya minta masak sama emak lo aja disini ) tentang mertuanya..

Nah.masalahnya begini, emaknya suami gak bisa masak, yang selama ini masakin dirumah mertua gua adalah pembantu2nya yang  masih pretil2 alias kecil2..

Mertua cuma ngasih resep plus ngawasin dari samping, gimana gak sewot kalo masakan rumahnya dulu (yang notabene hasil karya anak kecil)
dibandingin ama  masakan tangan gua sendiri..huahuahau..arogansi seorang tukang masak emang  gak boleh diutak atik..

Yang jelas mertoku punya indra perasa yang sangat tajam seperti Remi si tikus di film Ratatouille , wong sekali nyicip beliau langsung bisa ngebedain chocolate ganache yang dibikin dari dairy cream atau dari non dairy cream, padahal kalo kata gua mah sama sama aja…

Nggak salah lagi sang Mertua is a Super Taster.

Salah seorang  Sushi Master yang paling terkenal di Jepang, Jiro Ono adalah salah satu contoh super taster yang berhasil membawa restoran kecil miliknya mendapat rating 3 Star bintang Michelin Guide.

Untuk bisa makan di restoran sushi mungilnya Sukiyabashi Jiro yang terletak dibawah subway di Tokyo, dikau harus membuat reservasi 2 bulan sebelumnya.

barack-obama-jiro-Sukiyabashi.jpg

photo belongs to here

Presiden US, Mamak Omama eh, Barack Obama dalam kunjungannya ke Jepang baru baru ini diajak makan di restoran sushi termahal di Jepang ini oleh  Prime Minister Shinzo Abe ( April 23, 2014.)

Konon penghargaan Michelin Guide yang sangat bergengsi ini sangat mempengaruhi ramai nggaknya sebuah resto kelas dunia, sayangnya Indo belum masuk listnya yah, daku yakin ini bukan karena masakan di tanah air kita kalah nikmatnya dibanding masakan di resto di negara yang tercantum di daftar Michelin Guide.

Jangan jangan dulu ada Pencicip dari Michelin Guide yang bertandang ke Indo untuk mencoba masakan kaki lima yang direkomen oleh seorang turis bule dari Jalan Jaksa, abis itu  doi tepar kena muntaber, lantas jadi ciut melanjutkan petualangannya .ha.ha.ha…just kidding.

Daku yakin , masakan Indo is the Best !!!

Kembali,
Sebegitu dasyatnya lidah si Jiro doi masih iri dengan lidahnya Joël Robuchon yang mendapat julukan “Chef of the Century” yang  mempunyai lusinan restoran yang totalnya telah menyabet 28 Star ( 1-3 Star ) merupakan the most of any chef in the world.

picture from here

Buat yang belon pernah dengan nama Joël Robuchon, pasti tau dong Chef Gordon Ramsay yang paling belagu di Master Chef..xixixixixi

picture from here

Ternyata  si Gordon pemberang  yang pemegang 15 Star pernah bekerja dan belajar dengan
si Joël, ini katanya tentang si Muka Jeleks itu : ( Daily )

“Before Gordon Ramsay was known, he actually worked for me in Paris.

“One day I grew a little upset with him. He had made a dish – one that is well known, ravioli langoustine – and it had been repeatedly badly made.

“I called it to his attention and I lost my control.”

The 68-year-old continued: “I took the plate and I threw it at him. He looked at me, took his apron off, put it down, and just walked out in the middle of the service.

“So now I tell the story with a smile on my face as he is the one that is mean.

“And now he tells the tale, ‘When I was with Robuchon, he threw a plate at my face!'”

Ha..ha.ha..bisa bayangkan nggak si Gordon yang galak di tipi itu pernah kena lempar piring sama si Joël.

Mungkin sampai sekarang doi masih belon bisa move on dan masih sakit hati  dengan kejadian yang memalukan itu so doi melampiaskannya  kepada calons Masterchef…ha.ha.ha.

Dalam film dokumenter Jiro Dreams of Sushi yang sangat inspiratif itu, Jiro yang sudah berumur 85 tahun bilang ” Coba aja lidah daku sesensitip Joël, pasti daku bisa membuat lemper yang lebih enak lagi”

Ha..ha.ha..sushi kan sama aja dengan lemper kita, cuman bedanya kita isinya daging ayam dan sapi didalamnya dibungkus pake daun pisang, sedangkan sushi daging seafood letaknya diluaran dan dibungkus sebagian dengan daun ganggang laut.

Mega Sized Movie Poster Image for Jiro Dreams of Sushi

Photo belongs to here

Punya lidah yang sensitif itu sesuatu bangets kalo dikau ingin menjadi seorang Chef yang disegani di dunia kuliner.
Tapi being a Taster membawa malapetaka juga buat yang empunya…

Dalam kehidupan pribadi kecuali dikau belajar berkompromi dengan lidah dikau, if not mungkin beneran dikau akan mati kelaparan.

Bayangkan saja dikau punya lidah yang sangat cerewet terus pas sakit nggak doyan makan ini itu apa nggak mati kelaparan tuh ?

Lalu apakah menjadi seorang dengan lidah Non Taster menjadi menjadikan hidup tak berarti dan bergengsi ?

Simak ini…

Salah satu anak daku jagonya makan, apa saja doi bisa embat, daku menduga doi masih turunan emaknya alias Haniswiti istri daku, yang juga rasanya mendapat gen “spesial” ini dari babenya, mertua daku.

Sekali waktu Haniswiti diikutkan menjadi taster untuk  prototipe produk makanan baru di kantor dimana doi bekerja.

Semua pegawai disuruh mencoba beberapa macam sample produk yang sama tetapi berbeda resep, untuk diliat mana yang paling disukai, yang akan dipilih sebagai produk akhir yang akan dilepas kepasar.

Singkat cerita  setelah dicicipi, lalu Haniswiti ditanya, “Mana yang enak Bu, yang sample A atau B atau C ?”

Haniswiti dengan mantap menjawab ” Semua UENAAAKKKKK !”

Hm, sejak itu doi nggak pernah diikutkan lagi dalam urusan taste men taste ini, karena “cuman ngabisin sampe aja ” padahal doi senang sekali lho terlibat..ha..ha..ha..

Sebenarnya bukang karena bini daku pura pura mau nyengengin bossnya tetapi doi itu termasuk Non Taster dalam kadar yang sangat tinggi.

Jadi dalam kamus doi suatu makannan itu hanya ada 3 katagori : Enak, Sangat Enak dan Terlalu Enak…ha.ha.ha..

Kembali ke anak daku *yang dirahasiakan bakatnya*..

Anak daku ini sekali waktu disuguhin sop ayam kuah angkak, lalu doi sembari makan uwak uwek, seperti emaknya lagi ngidam lalu mertua daku curiga, anak daku ini gak pernah rewel soal makanan, kalo sayuran sih pastilah doi akan bilang nggak enak.he..he..semua anak kecil juga gitu.

Eh, bener, ternyata mertua daku lupa ngasih garamnya karena terlalu asik ngegosip sambil masak.ha..ha..ha..

Daku bilang ” jangan kebangetan dong, mentang mentang anak kesayangan daku ini lidahnya gampang, moso dikasih makanan sama sekali nggak berasa”.hi..hi..hi.

Tapi lucunya, sekali waktu kita lagi main ke S’pore, setiap kali doi diajak makan selalu bilang kenyang, dan makannya dikit sekali, badannya rada kurusan juga beberapa hari itu.

Besoknya daku pergi beli nasi lemak, lalu daku tawarin doi “Nak, mau cobain nggak ?”
Begitu dicoba itu nasi lemak, doi nggak mau melepaskan pegangan sendok garpunya lagi, makanan pagi babenya habis ludes di embatnya dalam sekian detik..hi..hi..hi..

Kesian, rupanya anak daku ini nggak suka sama bau Hau Yiu alias minyak Wijen yang menjadi ciri khas foodcourt disana, daku dulu juga sempat sentress pertama kali main ke Spore .ha..ha..ha.

Kembali,
Lain ceritanya anak kesayangan daku yang satunya lagi, doi itu Taster kaya daku, bila mbaknya masak didapur, dari diruang makan doi mencium baunya udah bisa kasih komentar “Wah hari ini masakan mbak boleh juga nih “..he..he..he..

Biasalah, emaknya lantas menuduh bapaknya ngajarin anaknya aneh aneh aja..hi..hi..hi.

Mencicipi makanan tanpa kesaktian menghirup baunya,kurang lengkap kegembiraanya.
Karena dari membau itulah kita bisa membandingkan rasa, bahan bahan yang digunakan, dan orang bilang itu bisa menambah selera.he..he..he..

Soal cium mencium ini, daku punya temen, si Ine, yang ketularan kenekatan daku, doi jadi nggak sungkan sungkan lagi menghirup bau masakan di piring jika kita lagi kumpul makan rame rame..hi.hi.hi..

Asalkan dikau nggak membuang napas diatas piring makanan menurut daku it’s oke aja dan jangan melakukannya jika dining out bersama orang asing yang tidak dikau kenal baik baik..ha.ha.ha.

Nah, inilah sebabnya kenapa Haniswiti suka hilang nyali bila disuruh masak, katanya sih mending dihukum ujian 100 kali aja deh..ha.ha.ha….

Pasalnya, anak anak selagi masih kinyis kinyis jujur kayak papanya jika meriview masakan mamanya, jadilah mamanya patah arang, sampai sekarang belum mau masak lagi..he..he..he..

Kalo sekarang sih, jika emaknya terpaksa masak, mereka dengan bijak memuji dan mengencourage “Enak juga kok Ma !” sambil nambah sendiri bumbunya masing masing wakakakak.

Tapi jangan salah, daku hepi punya istri yang Non Taster.

Kalo pergi keluar negeri dan kebetulan lidah kampungan daku ini sedang kumat rewelnya, doi selalu siap menghabiskan makanan pesanan daku.he..he..he.
Doi selalu minta daku pesan dulu, kalo daku doyan barulah doi pesan yang lainnya.ha..ha..ha..

Itulah bahagianya punya istri yang Non Taster 🙂

Daku yakin dikau semuanya, walau daku nggak sebut satu per satu adalah jago jago masak, tapi bila ada orang dirumah protes masakan dikau, jangan marah dulu teman.

Dikau coba cari riwayatnya dulu, apakah emang doi taster sejati dan juga seberapa sensitip lidah dikau, jangan mendadak manyum aja..hi..hi..hi..

Didunia pengecapan bisa dibagi menjadi 25% Supertaster, 50% Medium Taster dan 25% Non-Taster,  konon para wanita termasuk golongan Supertaster, demikian juga orang Asia, Africa, South American alias Latino, so berbanggalah menjadi orang Asia.

Sebenarnya enak nggak enak itu relatif, setiap orang punya preferensinya masing masing, so daku sekarang berusaha menghindari kalimat “tidak enak” untuk makanan yang belum pernah daku coba, well sebagai gantinya daku akan bilang “Makanannya nggak cocok untuk lidah daku”.

Sama aja ? .ha.ha.ha.

Daku dan anak anak sepakat menggolongkan rating restoran yang kita coba masakannya :
1 :Enak bangets, biking terkenang kenang masakannya, Oh YES,  we will come back ASAP.
2 :Lumayan enaks, mungkin kapan kapan kita akan balik lagi.
3 :Masakannya biasa biasa aja, tak ada yang perlu dikenang.
4 :Biar kata elo bayarin, kita ogah makan disitu lagi, atau versi pendeknya menurut anak daku yang non taster “Hell NO !!!”…ha.ha.ha.

Sangat penting untuk mengetahui apakah seseorang itu Taster atau Non Taster jika doi merekomendasikan sebuah tempat makan.

Belum lama ini, Haniswiti pergi makan bubur yang direkomen oleh dokter gigi yang dikunjunginya, sang tabib gigi bersabda ” Ai ini nggak doyan bubur sejak kecil, tapi kedai bubur ini satu satunya tempat hati daku berlabuh !!!”

Demi mendengar ini, pulang dari si tabib, mereka langsung mampir kesana, usai mencicipi mereka menjemput daku pulang praktek, daku tengak tengok ke belakang mobil sembari membaui ruangan mobil, kok nggak ada bau makanan ?

“Kok papa nggak dibeliin sih ?” Daku.
“Percuma Pa, ntar papa pasti manyun deh, buburnya nggak enak bangets”

Jikalau sang tabib gigi membaca ini atau ada yang melaporkannya, mohon maap ya Bib, jangan tersinggung ya, enak nggak enak kan itu soal selera saja..ha..ha.ha..

Moral of the setori : yang paling berbahagia di dunia ini adalah orang yang punya lidah Non Taster.

Advertisements

18 responses to “It’s better be Good or I’d rather Starve to Death than Eating this..

  1. Non taster pun ebenernya punya taste kan mbah? Paling tidak mereka gak “picky” dan menghargai kalo makanan itu enak, must be good. 🙂 Walopun taster juga gak terlalu masalah sih , paling tidak pd dasarnya dia suka makan, apa aja asal enak. Yg repot itu kalo yg beneran “picky” ini itu gak mau krn gak doyan alesan nya. Berasa pengen gue tampol… wehehehe

    • Ha..ha.ha..walaupun daku mau membenarkan perkataan dikau ini tapi masih bisa dibantah oleh si Picky bahwa doi penganut pola makan yang mendengarkan perintah tubuhnya tentang apa yang perlu dimakannya hari ini sesuai kebutuhan sang badan, pernah denger nggak aliran ini Re ?..he.he.he.

    • Ha..ha.ha..kalo dikau nggak kenal Jiro Ono, dan Joel Robuchan sih nggak heran Kuang, tapi masa nggak kenal dengan Gordon Ramsay dan acara masak masak Master Chef sih ? coba tengok di You tube, dan kalo sempat nonton deh film Jiro Dreams of Sushi, sangat inspiratif.

  2. “Itulah bahagianya punya istri yang Non Taster :)”

    tooooosssst Ed…
    aku bahagia punya suami yang non taster, jadi aku gak pernah di komentari masakanku gak enak.
    Bukan karena aku selalu masak enak, kalau lagi nggak mood masak, kadang aku aja ogah makannya, tapi doi selalu makan tandas tanpa komen. **suami takut bini kali ya?? hahaha…**

    • Kekekekek wah ko KJ itu emang top banget ya Ne, bayangkan kalo suaminya supertaster terus istri kurang mood masak seperti itu, bisa bisa gegeran..ha.ha.ha…

    • Ha..ha.ha.. kalo tiap hari rasa masakannya sudah uenak bangets masak mau puji puji terus, ntar basi..ha.ha.ha…mungkin dikau yang kudu tanya, “Hari ini masakanku ini Enak, sangat enak atau terlalu enak ???..ha.haha..

  3. aku dulu jg blom bisa makan yg berbau minyak wijen kl makan di China restoran di sini, lama lama bisa jg 🙂

    hihihi .. kebayang mencicipi sop ayam tanpa garam 😛

    • He..he.he. kayaknya selain masakan cina Indo, taiwan singapore suka bangets pake minyak wijen yah mbak Ely.
      Masakan tradisional Indo apa yang suka pake minyak wijen ?

      • nggak ada ya, blom pernah rasanya saat msh tinggal di sana ada menu masakan yg beraroma minyak wijen .

        Ini aku sdh terbiasa malah skrg, jadi sedap kl ditetesi dikit minyak wijen, apalagi kalau sop jagung itu wuuii 😀

    • Jelas karena masakan eyangnya nomor 1 di kolong langit ! tapi omong omong lidah cucunda tercinta termasuk yang taster atau non taster Om ?..ha.ha.ha.

  4. Aku nggak begitu jelas maksudnya tuh Ed.. kalau yang nggak pilih-pilih itu Non Taster? Lidahku ini susah kalau menyesuaikan makanan selain makanan kampungku.. itu jadinya aku termasuk apa? Taster sejati? he he..

    • Sebenarnya gak ngaruh ya, kalo dikau cinta mati sama masakan Bali, apakah semua masakan Bali yang dimasak oleh sembarang orang dikau anggap enak enak saja, atau dikau sangat pilih pilih masakan mana dimasak oleh siapa baru enak ? 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s