Hari Batik : That’s Why Daku Ogah pake Baju Batik…

Tiba tiba saja si Triplets pulang sekolah mendadak kompak minta dibeliin baju batik.
“Buat apa Nak ? ” daku

“Besok Jumat semua murid harus pake batik ke sekolah Pa, kalo nggak ntar di setrap lho ?”

“Masa sih nggak pake batik di strap ??”

“Nggak sih Pa, tapi kan nggak enaklah semua pada pakai, masa cuman kita bertiga aja yang nggak sih ???”

Masuk akal juga sih…

Rupanya sekolahan SMP si triplets, ikut mendukung dinominasikannya Batik Indonesia sebagai Intangible Cultural Heritage (warisan budaya dunia tak benda).

Nominasi tersebut disampaikan pada sidang UNESCO pada 28 September hingga 2 Oktober 2009 di Abu Dhabi Uni Emirat Arab.

Membanggakan memang….

“Ya udah, kalo gitu Kakak pake punya Mama aja, Koko dan Dedek pake punya Papa…”

????

“Nggak mau ah Pa, pasti kedodoran….” triplets bersahut sahutan kompak.

Wah, nampaknya program penghematan babenya gagal nih…he.he.he.
Kakak lalu telpon emaknya minta diantar beli baju batik ntar malam..

Tak lama kemudian selesai conversation di telpon, si Kakak beranjak ke lemari lalu mengeluarkan baju batik emaknya lalu mencoba.

Tinggallah daku senyum senyum ..

Nggak babe nggak emaknya, perintahnya sama aja kan ???..ha..ha..ha..

Sayang kalo beli batik cuman kepake sekali terus nggak muat lagi, namanya anak sedang mau gede gedenya.

Lalu kedua anak lelaki mencoba baju batik babenya yang masih brand new karena nggak pernah dipake..he.he.he.

Baju batik itu daku beli beberapa tahunan yang lalu…

Hani Switi maksa supaya kami punya baju batik 2 stel yang kembaran buat dipakai ke pesta, padahal daku udah bilangin daku nggak suka pake baju batik yang beli jadi, nggak bakalan pas deh buat daku pe bodi 🙂

Begitulah, daku pasrah saja saat tetap dibeli juga, tapi daku ogah memakainya, tinggallah doi “bernyanyi” ..hi..hi..hi…

Sungguh mengharukan hati melihat orang Indo kembali ke jaman taon dua, memakai batik dalam berbagai acara.

Semua berlomba, semakin hari semakin seru aja…

Kira kira sampe kapan ya ini trend bertahan ya ???..he.he.he..

Tapi daku kira keinginan Malingsia eh Malaysia menjadikan batik sebagai busana nasionalnya membuat rasa nasionalisme Indonesia bangkit kembali, seenggaknya di pulau Jawa tempat dimana orang Jawa sebagai empunya batik paling banyak berkumpul….he..he..he…

Sebenarnya busana batik itu sangat seksi lho sejak jaman dulu, coba deh dikau nonton filem jaman dulu, baju kebaya batik model dulu.

Kain sarung batik sangat serasi di sandingkan dengan baju atasanya, bahannya tipis berbordil motif yang tipis menerawang dan disertai belahan dada yang rendah dan kancing pake jepitan emas yang indah..

Orang Cina peranakan Quntien, generasi awalnya mengikuti kebiasaan orang melayu memakai sarung batik sampai akhir hayatnya.

Kedua oma daku pakai kain kebaya sejak masih muda..

Karena anak cucu sangat sayang dengan omanya, maka selalu membawakan oleh oleh kain sarung Encim yang bahannya sangat halus dan adem jika dipakai.

Tapi si oma terlalu sayang untuk memakai kain sarung baru pemberian dari anak cucu, jadi disimpan saja disebuah lemari khusus.

Biasanya doi secara berkala mengeluarkan kain sarung dari lemari, lalu di buka, di elus dan dinikmati keindahan kainnya saja lalu di lipat kembali dan di simpan lagi…he..he.he..

Sejak oma meninggal, doi mewariskan kain sarung satu lemari penuh…

Semua anak cucu kebagian buah tangan kain sarung encim dengan warna yang cerah dan corak yang sangat indah.

Dan daku senang memakai sarung warisan oma daku buat bobok sambil berangin angin, selain menyejukkan sangat praktis pula..he..he.he.

Sebenarnya yah, motif sarung encim yang diadopsi oleh Malaysia bagus bagus lho, selain warnanya cerah tetapi lebih soft motifnya, daku suka deh…he.he.he..

Jangan marah ya prens, ini soal selera..he.he.he.

Sudah bawaan orok, daku nggak suka dengan warna kain batik yang dominannya warna coklat gelap dan kombinasi dengan warna hitam atau yang warnanya jreng rame banget..

Itu tidak cocok dengan personality daku yang kalem dan tenang.he.he.he…

Makanya daku selalu menolak memakai baju batik cetak jadi warnanya seperti itu..

Alamak, buat daku, nggak banget deh..
Sedangkan yang daku demenenin itu bahan baju batik Sutra, harganya selangit banget dan pakenya pun paling sekali dua aja, masak setiap kali ke pesta pake baju batik yang sama sih?

Alasan ? ha..ha.ha.

So daku mending nggak usah pake baju batik di depan umum, mending menikmati pake sarung encim warisan oma dikamar aja..hi..hi..hi…

Tadi pagi daku melihat ada 3 potong baju batik baru si triplets yang berwarna coklat agak tua itu menggeletak di tempat cucian…

Kira kira luntur nggak yah kalo direndam????..he..he..he.. 1 Oct, 2009

episode 2 : BERKAT DASTER TIDUR DAN BAJU BATIK GOMBAL..

Besokan malam kamis, Kakak mencari baju batik yang baru dibeli kemaren di tumpukan
baju yang sudah selesai di setrika tapi tak menemukannya disana.

“Mbak, mana sih baju batik Kakak yang baru beli kemaren ?”

“Ini lho Kak, yang warna coklat ..” Mbak sambil menunjukkan bajunya ditumpukan pakaian yg sudah di strika rapi.

“Ini kok warna dan gambarnya sama kayak kain sarung yang Papa suka pakai ?? ” Kakak

“Lho kan Kakak yang pilih sendiri bajunya kemaren ” Mamanya.

“Kakak nggak mau pake ah, itu nggak ada bedanya sama kain tatakan boboknya Papa ”

Emaknya langsung senewen…ha.ha.ha..

Mamanya cari akal, lalu kasih unjuk sepotong baju batik kompilasi berupa sambungan potongan baju batik yang berbahan lembut dan enak dipake.

Baju ini hibahan dari adeknya Hani Switi yang cukup mahal harganya..

Tiba tiba..
“Tapi Ma, Kakak juga nggak mau ah pake baju yang ini, kayak kain pel..” Kakak

???????

Emaknya langsung sakit kepala.hua..ha.ha..

Sekilas memang nggak ada bedanya dengan kain gombal atau kain alas kaki yang dibuat dari kain cacahan atau
percahan yang nggak kepake lagi..hi..hi.hi..

Daku rada curiga “dikit” juga sih, jangan jangan ini aji mumpung batik sedang naik daon..

Baju baju batik bekas yang udah mau dibuang dikumpulkan lalu dipotong dan disambung sambung lagi menjadi sebuah batik bermotif mode yang kemudian dijual dengan harga mahal.hi..hi..hi..

Maapkan ya atas pemikiran yang error ini..he..he.he..
Bagi daku ini hanyalah ke-error-an bersama yang dinamakan Mode wakakakakak

Sebenarnya yang paling berjasa melestarikan batik di negeri ini adalah para emaks yang hobi pake daster tidur bertali dua bermotifkan batik setiap hari di rumah.he.he.he..

Harusnya sih daster juga bisa dikembangkan menjadi pakaian resmi acara gala dinner di luar negeri yah, asalkan dikau memakai asesoris etnic yang pas dan cukup pede, maka itu akan membuat para bule tercengang cengang dengan
tingginya kebudayaan negeri melayu ini.ha.ha.ha..

Hanya saja, jangan sampe ketemu sama orang Indo yang biang gosip, dikau bakalan jadi bahan pergunjingan abadi..ha..ha..ha..

Pagi pagi daku dibangunkan Kakak.
“Pa bagus mana baju batik yang Kakak pake ini dibanding sama yang ini ”

Kakak sembari menunjukkan baju batik yang semalam dibilang kayak kain tatakan bobok
daku dan baju merah emaknya yang motifnya mirip mirip batik..

“Bagus yang Kakak pakai..” Daku dengan yakin.

Setelah itu doi nggak komen apa apa lagi dan nampak hepi memakai bajunya itu..he..he.he..

Sebenarnya ya teman, jujur saja anaknya daku itu cantik kok biar pake baju batik tatakan bobok atau kain gombal.hua..ha.ha..

Hati seorang perempuan emang sulit di duga, even seorang anak perempuan sudah cukup memusingkan kepala.

Kedua anak lelaki daku nggak rewel dengan baju batik pilihannya masing masing..he..he.he.

October 2, 2009 ·

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s